Pagar Ini, Bukan Persoalan Imej

Sekumpulan yang seharusnya menjadi manusia, mereka, aku, berbaris rapi tanpa nomor antri.

Kerudung pemalu yang mengadu pada layar dan jejaring, beberapa seragam yang memutar duduk dengan gelas Pepsi di antara jari-jari tangannya sembari gelisah menanti apelnya pukul sembilan malam nanti, tengah baya yang percaya bahwa anak laki-laki di sampingnya tidak akan ketakutan meski tidak ada penjual gula kapas di dekat sini, dan aku yang memilih menceritakan mereka sebelum aku menceritakan yang sudah bosan kalian dengar.

Yang sudah bosan kalian perhatikan.

Mengapa? Mengapa tempat ini harus putih? Mengapa tempat ini harus terus berwarna putih?

Lalu Koes datang dan menyanyikan “Mengapa… Mengapa… Hidupku terasa merana…”.

 

Tempat ini, tempat dimana mereka, aku, mencoba mengakali diri agar tidak ada lagi yang meledakkan ejek pada kerusuhan dalam mulut.

Pernahkah kalian ingat, ketika mereka, aku, harus memaksakan bibir terus terkatup?

Bukan bau mulut. Belum. Dia yang seharusnya berbaris, dia yang seharusnya bisa membangunkan matahari dari lelap agar lekas berangkat ke sekolah, dia yang seharusnya bisa menyempurnakan senyum juga tawa sepanjang cerita. Dia, gigi mereka, aku, seharusnya bisa lebih berharga dari seringai mereka.

Hingga pada akhirnya mereka, aku, terdampar di sini.

Siapa peduli dengan jumlah gigi dan warna-warni karet yang kamu ceritakan, dokter.

Bagiku, berada di sini tidak semenyenangkan berada di arena bermain dingdong, hingga kamu bisa lupa mandi dan menghasilkan lebam biru di pantat ketika menginjak rumah.

Ini neraka, sungguh. Kamu sangat kejam, dokter. Sudah tiga dari dia kamu pisahkan dari keluarganya, meski dia yang tiga adalah kelalaian akibat tidak mengikuti KB. Juga mungkin, dia bertiga adalah anak haram.

Memang, pada waktu yang terjadwal, dia akan kembali berbaris rapi seperti manusia-manusia lain pada umumnya. Tapi, dipagari bracket tidak membuat mereka, aku, terlihat lebih indah dari taman tetangga. Pagar kayu masih yang terbaik.

Dan sekarang, aku masih menunggu giliranku diuji.

Lalu mengapa kalian mengira gigi yang berpakaian ini penuh gengsi?

Sialan.

Ditempeli benda sekeras ini membuat mereka, aku merasa rakus.

Selalu diliputi makanan ringan.

Mungkin bagus juga. Jika mereka, aku, lapar, aku tidak harus berhutang padawarung kelontong.

Entah sudah berapa biji yang aku makan.

Jadi, aku bertanya pada kalian yang menganggap sakit ini adalah birahi semata.

Serusuh apa dia yang ada di antara pipimu sehingga kalian merasa perlu menyumpalnya dengan manik-manik berwarna? Membutuhkan tujuh tahun sampai aku menyetujui nasihat orang tuaku berkaitan dengan drama ini.

Entah dengan mereka.

Tapi aku yakin, mereka sama tersiksanya.

Tidak seperti kalian.

Aku Ingin Tetap Diperbolehkan Menulis, Usia

Birdy sedang melantunkan Skinny Love milik Bon Iver ketika aku memaksa malasku menulis ini.

Menulis apa?

I tell my love to wreck it all…

Sejak kapan aku menulis seperti ini?

Lucu sekali ketika (pada akhirnya) aku sadar, apapun yang manusia ucapkan, yang aku tulis, bukan tidak mungkin membawa penghakiman. Ya, aku sudah merasakannya dulu. Jauh sebelum aku memakai otak untuk mengalahkan getir yang lebih mengerikan dari pemalak di Alun-alun Magelang, dulu. Apa yang aku ucapkan secara lisan, yang aku ucapkan lewat tulisan adalah apa yang mestinya aku rasakan. Sekarang pertanyaannya, bagaimana cara agar apapun yang aku rasakan dapat aku tulis dengan ideal. Ideal menurutku tentunya.

Mengapa kata “cinta” itu harus kubunuh? Bukankah aku manusia, sama sepertimu?

Kembali ke masa dimana istilah remaja begitu menyenangkan. Jatuh cinta, patah hati. Siapa yang tertawa membaca kata-kata barusan? Siapa yang melewatkan episode hidup dengan kalimat macam “Oh Adinda, aku sayang banget sama kamu. Aku ngga bisa hidup tanpamu. Jangan pernah tinggalin aku ya.” ? Iya, iya, aku juga pernah melakukannya juga. Blarrrrrr!!! Tentu aku harus mengaku sejauh itu, paling tidak untuk meyakinkan kalian bahwa aku manusia juga meski kadang merasa bahwa aku ini benda mati dan wajib menyetel Creep’nya Radiohead sebagai lagu latar. Bolehlah kalian mengejekku jika bertemu, sama seperti aku mengejek calon presiden mahasiswa di kampusku yang entah mengapa selalu memberi kesempatan untuk kujelek-jelekkan.

“Aku ngga tahu kenapa, aku ngga bisa ngilangin perasaanku ke kamu, kamu, juga kamu yang di sebelah sana.”

“Tolong kasih aku kesempatan sekali lagi, please… Aku laper nih, maem yuk, bayarin ya.”

“Kamu udah aku kasih kesempatan, tapi kayak gini caramu ngebales sayangku yang justru lagi gede-gedenya, segede perut Mama Dedeh?”

“Kamu tahu sayang, hanya kamu belahan jiwaku. Hanya kamu yang mau minjemin aku uang ketika aku kalah judi.”

Ah, aku tidak mau berlama-lama membahas hal sensitif seperti ini. Takut. Takut nggerus (lagi). Hahahaha. Aku suka menulis dengan tajuk perasaan. Apapun itu. Untuk episode perasaan suka pada lawan jenis tidak luput juga meski aku mati-matian sok jual mahal. Masih mending lah, daripada episode perasaan suka pada sesama. Sebagian besar tulisanku tidak lepas dari tema tadi walaupun beberapa ada tulisan jadi-jadian yang membuatku terlihat kritis dan berwibawa. Dengarlah Fake Plastic Trees dan kamu akan tahu kalau aku juga palsu.

Aku mendengarkan Efek Rumah Kaca untuk pertama kalinya dan meyakinkanku bahwa selalu ada cara untuk menunjukkan perasaan tanpa harus dipenjara zaman.

Sebelum pada akhirnya menemukan cara untuk menunjukkan perasaan, aku sama saja. Bahkan terakhir karena putus asa, aku memilih sok Hitam dengan sama sekali tidak memberi kesempatan sensitifku berbicara. Kematian, putus asa, depresi, atau apalah yang sekiranya gelap dan membuatku terlihat gagah seperti Agung Hercules. Mendengarkan Efek Rumah Kaca menyadarkan egoisku, bahwa yang dirasa sensitif bagi perasaan harus tetap diberi wadah. Kalimat “aku jatuh cinta kepadamu” terpaksa aku hancurkan untuk menemukan jalan yang baru, yang lebih panjang, yang lebih memorable jika kelak aku rindu pada apapun yang sempat aku tulis. Mudahnya, aku ingin bisa tetap menulis, apapun, tanpa kehilangan martabatku sebagai manusia. Aku tidak ingin, siapapun dari kalian yang membacanya, meninggalkan belas kasihan. Entah aku sudah berhasil atau belum.

Ketika aku jatuh cinta, aku memilih berputar arah, menempuh hutan, kering sungai, agar aku bisa menemuimu seperti laki-laki. Meskipun semua tahu, menemuimu cukup berjalan sepuluh langkah ke depan, agar orang lain lekas tahu. Aku harus tetap menemuimu, tanpa membuatmu kehabisan malu.

Wah, aku curhat ya? Tak apa. Semoga kalian yang kebetulan membaca ini mengerti, aku menulis sedemikian rupa pantat bukan karena aku kenyang dengan buku sastra. Aku tidak suka membaca. Aku, hanya ingin tetap diperbolehkan menulis, sesensitif apapun, tanpa dipermalukan usia.

Efek Rumah Kaca, aku berhutang hidup pada kalian.

Sudahkan Engkau Merasa Pulang?

 

Di luar yang berpayung mendung.

Di luar yang memagut terik.

Di luar sana, bukan jalan keluar.

Di dalam yang petang, bukanlah ruang.

Tidak ada yang mengunci.

Tidak ada yang bersikeras menahan diri.

Dan tidak pernah ada.

Tidak pernah ada yang melarangmu berlari, menjarakkan kaki dari bias yang sendat laun menyulut suri.

 

Rinai yang biasa menetes dari basah bibirmu, tak lagi mampu menjaga agar dekapku terbebas dari ruai.

Gerai yang biasa melantun dari rambutmu, tak lagi mampu menahan derai.

Dari mataku.

Dari mataku sendiri.

Dari mataku yang sendirian.

Dari mataku yang rindu bahasa selamat datang.

Dari mataku yang hampir pasti tertidur, menunggu tabirmu dari perjalanan panjang.

 

Lalu, sudikah engkau pulang?

Sudahkah engkau merasa pulang?

Sudahkah engkau merasa bahwa sisa bayanganku menunda pejamnya demi melihatmu kembali datang?

Sudahkah?

 

Dudukku denganmu masih kutunggui.

Darah di keningmu masih kucemasi.

Meski aku tahu, rindu yang pernah kutitipkan bertambah berat.

Tak pernah mengapa jika rindu yang pernah kutitipkan, yang pernah kurekatkan pada bangir hidungmu, tertinggal di lain tempat.

Bukan di sini.

Bukan di sini.

 

 

Ruang Pertemuan

“Baiklah kalau itu keputusanmu, aku minta maaf.”

“Apa maaf itu cukup! Berpikirlah bahwa aku lebih penting dibandingkan mengalah dan rasa bersalahmu yang selalu megah!”

“Lalu, apa yang kamu inginkan?

“Sebaiknya kamu mencari buku pedoman menjadi laki-laki, Ham.”

Sekarang aku benar-benar mengerti. Aku cukup menjadi laki-laki. Tapi, apa buku itu sungguh ada? Kalau ada, aku mau memilikinya. Ya, seperti diam yang selalu aku ciumi…


Ketika Tom Gabel memilih mengganti (mungkin lebih tepatnya menyempurnakan) diri menjadi perempuan, aku tidak begitu. Mungkin ketika vokalis Against Me! itu berniat merubah nama menjadi Laura Jane Grace, aku tidak berniat merubah namamu menjadi Mulyadi atau Marzuki. Sesimpel itu. Dan lebih, aku bukan transgender. Transformer mungkin.

Hai, lama tak mengunjungimu. Sesekali waktu aku datang, tak sampai mengucap salam. Dan sekarang aku kehabisan akal. Apa namanya jika manusia merasa dangkal? Kalau kamu dapat jawabannya, maka itulah aku yang lebih dari sebulan ini mati. Dan jangan anggap kalau sampah ini menandai bangunku. Jangan anggap apapun, sebelum kamu menyesal. Menimbun sebal yang lebih lagi.

10 April lalu, saudariku bertambah usia. Aku tidak ikut serta merayakan kebahagiaannya. Aku tidak berada di sana. Iya, aku menyesal melewatkan gembira dan harunya. Harusnya aku ada di sana kan? Memeluknya, sebisa mungkin membuat tangisnya mendarat di bahuku. Meyakinkannya, bahwa tawa dan tangisnya masih kupandang dengan seksama. Selamat 21 tahun Fitri Rachmawati. Aku (belum) bisa menepati janjiku.

Siapa lagi?

Argh!!! Aku sungguh ingin bertemu dengannya. Melihat gelombangnya. Menertawakan apa yang bisa, menangisi apa yang seharusnya. Seharusnya bisa kutangisi semua. Sayang aku laki-laki. Dan lebih sayang ketika aku tidak bisa merajut kata di hadapannya. Aku sudah berhadapan dengannya, dan keranjang aksaraku terburai di jalan. Tak terselamatkan.

Sedih sekali ya? Apa ceritaku sudah lebih emosional? Ini memang ruang pertemuanku. Dengan diriku yang terpejam lama. Dengan mata yang tak terbuka.

 

 

Pernahkah kamu, terbebat angin di musim pergantian senja?

Tanpa matahari.

Dinding ini kubuat dari sisa jeraku terhadap matahari.

Ruang pertemuan tanpa jendela, tanpa erata.

Tak ada kesempatan tumbuh bagi udara.

Semoga pantas, untukku yang tercipta culas.

Semoga pantas, untukmu yang terbiasa cerkas.

 

Maafkan.

Ruang pertemuan ini, ruang pertemuanku denganmu ini tak beratap.

Tanpa gegap, dan kuharap tak ada sembab.

Meski pagi.

Meski kata pagi mengajak cair mataku berkelahi.

Terjerembab di lengket gravitasi.

 

Dan tetap maafkan aku karena menghimpitmu di tengah gemuruh.

Ruang dimana wajahmu kububuhkan.

Ruang dimana tinggi-rendahmu kubahasakan.

Ruang dimana tidak ada lain waktu.

Ruang dimana aku bertemu denganmu.

Denganmu, harum rindu yang diterjang layu.




Sampah, Teriakilah Aku Seperti Itu

 

Aku tidak meletakkan batu lamat-lamat dalam tanah.

Seperti yang pernah, dan selalu kamu temui.

Aku (kembali) biasa saja.

Tak dendam, meski tak bicara.

Aku hanya bosan mendengung suara.

 

Dan bangun dari tidurpun tak lebih baik.

Aku tak lagi biasa dengan pekik.

Bahkan ketika kamu, yang aku anggap gelombang terakhir di laut.

Karang terakhir yang aku pijak.

Yang aku ajak bernuansa di pagi buta.

Yang aku ajak tenggelam di gelap bisu.

Mana mau?

 

Aku sedang biasa tak mendengar langkah.

Aku sedang biasa membiarkan raut muka melempar pandang ke ufuk yang kosong.

Pada ragu yang tidak tertolong.

Tak satupun wajah kubiarkan mendekat.

Tak satupun tangan kuijinkan mengerat.

Sungguh, pada manusia aku sudah lumat.

 

Dan aku harus terus sadar.

Jangan biarkan diamku menembak suar.

 

Sampah!

Sampah!

Sangkamu, seharusnya tetap seperti itu.

Tak (Pernah) Masalah Jika (Aku) Sendirian

“Bagaimana kamu akan peduli padaku jika peduli pada dirimu sendiri saja kamu tidak?” tanyamu, mungkin.

Hampir saja aku lupa bahwa Kamis ini aku memiliki janji dengan diriku sendiri. Dengan dirinya. Aku merogoh dompet. Di salah satu sakunya, terselip sepasang tiket. Judulnya “Ten2Five Reunion with Jogja”. Nomor 28 dan 29.  Kalau kamu yang membaca ini sedikit nakal, bolehlah kamu ganti “Ilham Reunion with Human”.  Kamis ini, pukul 19.00.

Separuh hari ini aku habiskan di berhala bernama gedung kampus. Sedikit bernegosiasi dengan sadarku. Sisanya tidur di pojok ruangan. Bahkan buku EYD saja tidak bisa membuatku terjaga lebih lama. Untung aku tidak bertemu Anies Baswedan di dalam mimpi dan memaksaku belajar tata bahasa di dalam mimpi. Bangun di akhir senja. Sebenarnya dibangunkan kawanku yang tahu bahwa aku tidak bisa saja bertahan di sana sampai hari berikutnya jika dia tidak berinisiatif menggoyangkan tubuhku.

Selepas dengung Maghrib, selepas aku melepas keringat di badan, aku memberi kabar pada seseorang. Reminder sebenarnya. Hanya menanyakan di mana dia. Jika kamu bingung dengan siapa yang kusebut “dia”, maka dia adalah orang yang aku ajak menonton konser hari ini sejak dua minggu lalu. Iya, iya, aku tahu kalau aku sudah pasti pergi sendirian. Aku hanya coba menepati janjiku untuk mengajaknya. dia mau atau tidak, aku selalu siap dengan jawaban “tidak”. Bahkan ketika tidak ada jawaban sama sekali. Aku sudah sering bepergian sendiri. Mengajak banyak orang, dan berakhir sendirian. Sambil menunggu jawaban, aku bergegas meminjam kamera temanku. Di kos temanku, sebuah pesan dari kawan lain—yang semestinya juga menonton konser karena sudah memiliki tiket—mengatakan bahwa dia punya dua tiket nganggur. Nomor 24 dan 25. Daripada tak terpakai tentu lebih naik aku ambil. Siapa tahu kawan-kawanku ada yang bingung menghabiskan malamnya. Aku sebarkan kabar lewat pesan pendek. Aku terlambat satu jam lebih. Dan kurang beruntungnya, beberapa kawanku yang membalas tidak ada yang bisa menampung dua tiket gratis tersebut. Baiklah, lebih baik aku berangkat sekarang.

Hamper 20.30 ketika aku berhasil sampai di area TBY dengan selamat. Selamat karena Ten2Five belum tampil. Menuju tempat penukaran tiket, dan aku bingung harus menukarkan yang mana. Akhirnya tempat duduk nomor 28. Tiket 24 dan 25 kuberikan ke sembarang orang yang kebingungan karena tiket on the spot habis. Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya untuk menjualnya saja? Lalu tiket nomor 29? Kusimpan saja sebagai kenang-kenangan. Tidak kuberikan, tidak kutukarkan.

Kelompok musik pembuka Ten2Five kudengar meng-cover tembang Ode Buat Kota milik Bangku Taman. Setelah diputar-putarkan pemandu pencari kursi, akhirnya kursi 28 ditemukan dengan selamat. Kosong. Jika ada yang mendudukinya, boleh kuhajar? Aku duduk sebiasa mungkin meski kursinya bergoyang-goyang. Sial! Setelah menyamankan duduk, aku melihat kondisi sekitar. Di samping kananku persis, perempuan yang bersebelahan dengan perempuan juga. Untunglah. Sebab jika aku duduk di nomr 29, sebelah kiriku adalah sepasang kekasih. Baiklah, kursi sebelah kiriku kosong. Lalu kenapa? Anggaplah nomor 29 itu orang lain yang tidak aku kenal dan dia berhalangan hadir dengan alas an yang aku sama sekali tidak peduli. Tapi, aku mengenal kursi itu. Seharusnya aku mengenal pemilik kursi itu. Dia tidak membalas pesanku. Tak apa. Paling tidak, aku bisa ngobrol dengan tas yang kuletakkan di bawahku. Aku tidak meletakannya di nomor 29. Aku tidak mau membuat kursi itu tampak berisi.

Selesai meng-cover Boys Don’t Cry milik The Cure, kelompok pembuka itu kukutan juga. Pukul 21.15, Ten2Five muncul. “Mari melihat penampilan mbak Imel”. Tenanglah, aku sedang bicara pada tasku.

Sialan! Ten2Five malam ini membuatku berkata dalam hati, “Aku tidak menyesal tidak pergi hanya karena aku sendirian.” Sembilan tembang. Beberapa yang aku kenal adalah Hanya Untukmu,  Aku Ada Rahasia,Happy Birthday, Lir-ilir, You, I Do, Rum Raisin Chocolate Ice Cream. Ada tembang baru yang aku tidak ingat judulnya. Nggerus-nya tidak kalah. Dan last song tidak perlu ditanyakan. I Will Fly dengan standing dari penonton. Lagu tersukses mereka. Di beberapa lagu, teater dari UII menampakkan diri untuk mendampingi nyanyian mbak Imel. Mbak Imel beberapa kali naik ke bangku penonton. Dan yang paling sial adalah, ketika dia mencium seorang penonton setelah diajak berduet. Aku mau.

Ten2Five bermain sekitar 45 menit. Setelah itu penonton bubar dengan senyum gembira. Walaupu mereka ingin Ten2Five tampil lebih lama. Sama sepertiku yang meninggalkan bangku di sebelahku kosong. Mungkin lain kali. Tapi rasanya, keberanianku sudah mati. Lagipula, menonton konser Ten2Five sendirian itu tidak seburuk mati membusuk di kamar.

Aku melihatmu di kejauhan.

Di antara kerumunan yang beranjak pulang.

Kamu masih tetap cantik.

Untunglah kamu tidak sendirian.

Kamu sedang gembira.

Aku tidak suka melihatmu tidak gembira.

 

Baiklah, aku harus pulang.

Maaf, aku menampakkan wajah yang buruk.

Kamu bertanya mengapa aku sendiran di tempat ini.

 

Aku mempunyai dua tiket.

Satu untukku.

Satu lagi untuk seseorang.

Dan aku benci menjadi cerita sinetron.

Ya, seharusnya tiket yang satu lagi untukmu.

Dan memang untukmu.

Maaf, aku terlambat memberikannya.

Sekarang terimalah.

Aku harus lekas pergi.

(22 Maret 2012. Terima kasih Ten2Five. Maaf aku terlambat menulisnya.)

21 Tahun 17 Hari

Sudah 17 hari sejak pertama kali aku merasakan kutukan bernama “kepala dua”, dan mengakhiri toleransi dari kutukan itu sendiri. Argh!!! Tentu saja, usia 20 kemarin masih aku anggap tidak apa-apa. Bermain, malas-malasan di kamar mandi, meminta uang pada orang tua sesering meminta permen, meremehkan hal-hal remeh yang bukan tidak mungkin kelak berguna besar. Ya sudahlah, usia 21 memang tidak bisa dihindari, kecuali kamu mati satu hari sebelumnya dan hidup lagi satu tahun sesudahnya.

Yap yap yap, sekarang aku berusia 21 tahun 17 hari.

“Apa yang telah aku lakukan di 17 hari pertamamu?”

“Tidak ada.”

“Kalau cerita?”

“Ada, cukup banyak. Tapi akan kusempitkan saja, seperti celana yang kamu pakai itu.”

Dia takut aku gila. Hahahaha. Tentu aku tertawa merajuk, agar dia tidak lagi berkata demikian. Apa ya yang telah aku lewatkan sampai kawanku berkata demikian? Ilham, Ilham, bukankah kamu selalu tahu jawaban dari pertanyaanmu sendiri?

Oke, oke, maafkan aku kawan. Anggap saja aku sedang dalam adaptasi pengenalan diri (lagi). Menimpali beberapa adaptasi yang pernah aku lakukan dulu.

=============================

Bukankah kamu yang diam itu memang kamu yang sebenarnya?

Dan kini kamu memperlihatkannya lagi.

Cukup lama kamu membiarkan diam itu beku.

Bodoh kamu!!!

==============================

Aku tidak pintar bicara masalah ini. Bagaimana kalau aku sampahkan saja?

==============================

Siapa yang mesti peduli?

Kerutmu itu, bisumu itu, jangan kamu terbitkan lagi.

Aku bosan melihatmu memamerkannya lebih lama dari kuliahku di hari selasa.

Jadi, sudahi saja.

 

Mereka sudah datang, mendekati baumu yang tak juga harum.

Mendekati malammu yang tak juga berembun.

Lalu apa yang kamu lakukan?

Meminjamkan senyum, kamu tak pernah mau.

Mereka tidak mau bicara pada batu, sepertimu.

 

Matikan rokokmu! Matikan! Aku sedang bicara!

Meski wajahmu tertutup asap, aku tidak akan tertipu lagi.

Asap di bibirmu hanya membuatku semakin pengap.

Baiklah, perbolehkan aku pergi.

Kamu tidak punya teman selain asap dan api.

Ada, buku tua yang tidak pernah lupa kamu bawa.

Sayang, dia tidak bisa bicara.

 

Aku tidak mau marah kepadamu.

Terakhir kali melihatmu, kamu sedang bicara pada meja, potongan jeruk, lalu entah apa lagi.

Dan kamu tidak mau dikatakan gila? Yang benar saja.

Sana, pergilah bermalam minggu dengan benda mati kegemaranmu.

Lekas cerita padaku kalau-kalau dia bisa mencium pipimu.

Adik-adik Kalian, Adik-adik kami

Kami belum akan bosan.

Adik-adik kalian, adik-adik kami, masih terlalu rentan.

Kami ingin membuat mereka terus merasa nyaman.

Sampai pada waktunya nanti, mereka menentukan pilihan.

Kalian juga ingin bukan?

 

Jadi, tolong adik-adik kalian, adik-adik kami.

bukan kami yang perlu kalian cemburui.

MEREKA!!! Adik-adik kalian, adik-adik kami, perlu lebih banyak uluran tangan!!!

 

Kalau kalian masih juga enggan, tak apa.

Tolonglah kami.

Kami mohon.

Untuk mereka.

Adik-adik kalian, adik-adik kami.

 

Maka datanglah jika sempat.

menghadiahi adik-adik kalian, adik-adik kami, cerita yang hebat.

dan janganlah kalian datang dengan pengertian yang dibuat-buat.

Jangan biarkan hati mereka tersayat.

 

Sungguh, adik-adik kalian, adik-adik kami, masih sangat rentan.

Janganlah jiwa mereka tega kalian, kami, penjarakan.

Kamu Tertuang Setengah Dua

“Dan mengapa aku harus bertemu denganmu lagi di tempat sesentimen ini? Pertanyaan yang menyuapi telingaku tiga kali sehari. Kadang lebih”.

 

Perlahan.

Detak langkahku memintal kurus kering jalanan.

Menambat kaki.

Penuhi mataku dengan rindu yang kecil, hitam, kumuh.

Terus…

Terus…

Biarkan petir di mataku merintik gemuruh.

Lalu…

Thom Yorke jatuh.

Bukan kamu.

Kamu tak perlu jatuh.

 

Ya, aku gemar melihatmu tertuang di atas sana.

Di pijar lampu yang tak perlu mengerti siapa penikmatnya.

Apa aku berkata aku menikmati pijarmu?

Tentu aku harus berkata begitu agar kamu bisa terus tidak peduli.

Sepasang kaki ini masih gemar menunda hari.

 

“Kenapa sampah ini tak tampak sentimental sejak Thom Yorke tertera? Aduh, aku salah mencari nama. Bolehlah kamu ganti dengan desis jutaan keping milik Adele. Atau Andi Lau”.

“Diam! Aku tahu aku mulai mengigau. Jalanan memang seperti alas tidur. Pakaliah selimutmu nak. Dan tetap berlagak dewasa”.

 

“Mulai sepi,” kataku.

Tidak ada jawaban.

Pantaslah.

Penat di bahuku tak pandai bicara.

Tapi, dia pendengar yang baik.

Sama sepertimu yang tidak kuajak bersuara.

 

Tidak ada penjelasan kapan aku berhenti.

Tidak ada penjelasan kapan aku berhenti.

Tidak ada.

Lekaslah mengerti.

Esok, terik malam ini belum tentu pejam.

Dan tidak ada yang peduli.

(25 Februari yang belum lama lahir. Aku juga belum lama mengenalmu dari tidur.)