Sekumpulan yang seharusnya menjadi manusia, mereka, aku, berbaris rapi tanpa nomor antri.
Kerudung pemalu yang mengadu pada layar dan jejaring, beberapa seragam yang memutar duduk dengan gelas Pepsi di antara jari-jari tangannya sembari gelisah menanti apelnya pukul sembilan malam nanti, tengah baya yang percaya bahwa anak laki-laki di sampingnya tidak akan ketakutan meski tidak ada penjual gula kapas di dekat sini, dan aku yang memilih menceritakan mereka sebelum aku menceritakan yang sudah bosan kalian dengar.
Yang sudah bosan kalian perhatikan.
Mengapa? Mengapa tempat ini harus putih? Mengapa tempat ini harus terus berwarna putih?
Lalu Koes datang dan menyanyikan “Mengapa… Mengapa… Hidupku terasa merana…”.
Tempat ini, tempat dimana mereka, aku, mencoba mengakali diri agar tidak ada lagi yang meledakkan ejek pada kerusuhan dalam mulut.
Pernahkah kalian ingat, ketika mereka, aku, harus memaksakan bibir terus terkatup?
Bukan bau mulut. Belum. Dia yang seharusnya berbaris, dia yang seharusnya bisa membangunkan matahari dari lelap agar lekas berangkat ke sekolah, dia yang seharusnya bisa menyempurnakan senyum juga tawa sepanjang cerita. Dia, gigi mereka, aku, seharusnya bisa lebih berharga dari seringai mereka.
Hingga pada akhirnya mereka, aku, terdampar di sini.
Siapa peduli dengan jumlah gigi dan warna-warni karet yang kamu ceritakan, dokter.
Bagiku, berada di sini tidak semenyenangkan berada di arena bermain dingdong, hingga kamu bisa lupa mandi dan menghasilkan lebam biru di pantat ketika menginjak rumah.
Ini neraka, sungguh. Kamu sangat kejam, dokter. Sudah tiga dari dia kamu pisahkan dari keluarganya, meski dia yang tiga adalah kelalaian akibat tidak mengikuti KB. Juga mungkin, dia bertiga adalah anak haram.
Memang, pada waktu yang terjadwal, dia akan kembali berbaris rapi seperti manusia-manusia lain pada umumnya. Tapi, dipagari bracket tidak membuat mereka, aku, terlihat lebih indah dari taman tetangga. Pagar kayu masih yang terbaik.
Dan sekarang, aku masih menunggu giliranku diuji.
Lalu mengapa kalian mengira gigi yang berpakaian ini penuh gengsi?
Sialan.
Ditempeli benda sekeras ini membuat mereka, aku merasa rakus.
Selalu diliputi makanan ringan.
Mungkin bagus juga. Jika mereka, aku, lapar, aku tidak harus berhutang padawarung kelontong.
Entah sudah berapa biji yang aku makan.
Jadi, aku bertanya pada kalian yang menganggap sakit ini adalah birahi semata.
Serusuh apa dia yang ada di antara pipimu sehingga kalian merasa perlu menyumpalnya dengan manik-manik berwarna? Membutuhkan tujuh tahun sampai aku menyetujui nasihat orang tuaku berkaitan dengan drama ini.
Entah dengan mereka.
Tapi aku yakin, mereka sama tersiksanya.
Tidak seperti kalian.










