Androgini dan Gula Kapas

Aku lompati dulu hal terbaik dari tulisan ini. Disini aku memposisikan dirimu sebagai 2 orang bersaudara dengan orang tua normal pada umumnya. Dengan adik lucu pada umumnya, mandi disungai dan memajang poster Sid Vicious. Itu sampai adikmu beranjak dewasa dan memiliki kegemaran pada hal yang lain, hal yang sebenarnya tidak tega disebut kegemaran. Diakhir cerita yang aku baca, adikmu bukan menjadi teroris, setidaknya tidak sampai dikejar George Walker Bush dan CIA karena dia masih di indonesia. Dia tidak merakit tupperware untuk menghancurkan masjid dan gereja seperti kebanyakan kasus yang ramai dan dan menawan bagi segelintir pihak. Hanya berniat menghancurkan kedubes Amerika dan Inggris, Israel kalau ada. bukan, dia bukan teroris. Dia memang islam yang radikal dan sangat membenci ke tiga negara itu. Bukan lantas dia membenci agama mereka, apa yang pantas dibenci dari kristen, budha, konghucu sedang agamanya sendiri tidak pernah luput dari perbedaan antara NU dengan Muhamaddiyah, FPI dan Ahmadiyah. Yang dibencinya adalah zionisme yang membutakan, bahkan bagi adikmu sendiri. Pada akhir idealismenya, dia pergi dan tidak diketahui keberadaannya selain menanti berita berita dikoran yang sama nihilnya dengan melihat email hari ini.

Kamu gagal menjaganya, tapi dia merasa cukup dewasa untuk menuntaskan idealismenya.

Suatu waktu yang tidak menarik untuk disebut, pernah memaksaku membaca. Apa aku harus berkesimpulan bahwa laki laki yang bijak adalah individu yang bisa merubah raut ekspresinya dengan cepat dalam situasi yang sama. Bahwa yang berdiri disampingnmu, yang diajak bekerja sama untuk menatap satu panorama diujung sana. Mungkin. Kejauhan itu dimisalkan sebagai gegap gempita sebuah pasar malam. Aku pernah berpikir apa ada yang bisa disedihkan dari kegembiraan yang mereka tangkap di sudut itu kecuali pasar malam itu didirikan disamping panti jompo dengan 1823 manula didalam dan menangis karena popok mereka merembes dikursi roda? Apa ada yang punya ide lebih buruk? Kembali pada masalah yang berdiri disampingmu dan merapatkan tubuh ke lawan jenis masing masing kalau sesama jenis terdengar sangat buruk. Kalian bersepakat membicarakan keramaian itu dari atap sebuah gedung tertinggi. Tempat yang tenang untuk mengeluarkan segala kemungkinan terbaik yang bisa didapat disana. Itu ekspresi pertama yang sewajarnya tumbuh. Tidak ada yang salah sampai kamu melihat seorang anak kecil sedang memegang gula kapas pemberian kakaknya. Lalu apa yang salah dengan sekelumit itu? Bukankah kita sering menemukan kejadian macam itu disepanjang kamu menggoda gadis dijalan atau saat membolos dan bertemu orang tua pacar dipasar ikan? Iklim dan kondisi yang rmenenangkan, dalam hal ini tentang banyaknya waktu bagi ingatanmu memungut satu saja kejadian memilukan.

Ya, tiba tiba pose kecil adikmu datang ditengah ketenangan yang kamu bangun itu. Saat dia lebih kecil dari yang diceritakan diatas, adikmu pernah menangis disepanjang jalan pulang dari surau karena mati matian ingin gula kapas yang dijual dipasar malam dan kamu mati matian juga meyakinkan adikmu bahwa kamu tidak punya cukup uang bahkan untuk membeli sebiji permen jahe. Sebagai bentuk preventif kamu menjanjikannya gula kapas suatu saat nanti ketika pasar malam datang lagi. Itu sudah bertahun tahun lamanya hingga kini kamu menjadi buruh sebuah agency diibu kota dan adikmu seumuranmu saat sma. Mungkin juga dipikiran adikmu kini cuma ingin mengganti poster Sid Vicious dengan sketsa Teuku Hasan Tiro.

Bukan kegagalan menjaga adikmu yang membuat ekspresi kedua muncul secepat itu. MENANGIS, androgini. Tapi semata mata karena gula kapas itu.Kamu tidak akan dengan senang hati menangis untuk gula kapas jika kondisi adikmu tidak seabstrak ini. Dimana kamu bisa menelponnya juga mengajaknya menonton waria di Karebosi. Tapi tidak dengan kondisi seperti ini.

Kamu menyingkirkan dulu siapa yang ada disampingmu, mengalah pada gravitasi dan membiarkan air matamu jatuh. Dulu kamu pernah mati matian berjanji pada adikmu untuk gula kapas, dan sekarang kamu tidak tahu dimana adik yang seharusnya bisa mendapatkan lebih dari janji pasar malam itu.

Bukankah itu tampak sepele jika dipandang dari satu sisi? Menangis saat melihat pasar malam.

Aku tidak meminta untuk menjaga adikmu dengan tulisan ini. Tidak sampai dia tumbuh dewasa dan mulai berpikir.

Masih terlalu banyak hal yang membuat laki laki menjadi androgini oleh hal hal sepele. Sepele yang menurut sebagian dari kalian keterlaluan. Tapi tidak ada yang tidak mungkin bahkan jika kamu berharap masih berhubungan dengan Richard Nixon dan kasus Watergate_nya. Dunia ini kecil dan saling berhubungan satu sama lain, seperti teori small worlds phenomenon yang mengilhamiku dan satu temanku. Untuk kali ini gula kapas yang berhasil menghubungkan ingatanmu pada adikmu. mungkin lain waktu seorang waria bisa melakukannya juga.

— Jika “Mencari Tepi Langit” adalah buku anak anak, kalian akan meninggalkan majalah bergambar kelinci. —

Advertisements

10 thoughts on “Androgini dan Gula Kapas

  1. Androgini mungkin hanya kata yang mewakili rasa kemanusiaan seseorang yang masih memiliki akal dan hati. πŸ™‚
    Terkadang hal sepele itu lebih bermakna dari apa yang dipikirkan oleh pemikir dunia. πŸ˜›
    Tapi tetap ISTIMEWA.

      • Oh iya setelah saya membaca referensi dan literatur ternyata saya memiliki pandangan bahwa androgini dapat terjadi atas 2 hal:
        1. Keturunan
        2. Lingkungan Sosial/Psikologi
        Jadi ya androgini bukan seseorang yang meringkih di kamar karena mengingat masa lalu, tapi seseorang memiliki 2 kepribadian/tingkah/kebiasaan seperti laki-laki dan perempuan. πŸ™‚

        Ya gak tau juga denk…..

  2. Saya setuju soal lingkungan sosialnya.
    Tapi mengganti faktor keturunan dengan faktor psikologis.
    Soalnya faktor keturunan membuat saya bingung mas…
    Apa faktor keturunan bisa mengakar kuat kalau lingkungan sosialnya mengajarkan hal non androgini?

    • Sebenarnya saja juga kurang mengerti mengenai ilmiahnya seperti apa?
      Penyakit yang genetika ini memang bisa dilawan, namun androgini bukan penyakit yang terlihat semasa kecil. Jadi penanganan yang terlambat membuat seseorang sulit untuk dijauhkan dari sifat itu. Gimana menurutmu?

  3. Mase ngajak aku bingung tenan nek iki.
    Kalo substansinya masa kecil dengan segala tetek bengeknya menurut saya kok lebih pada disorganisasi orang tua yang mempermainkan psikis anak. Dalam artian lingkungan sosial yang bergesekan dengan psikologi.
    Mungkin lain waktu harus berdiskusi panjang dengan psikolog mas…
    Ada ide lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s