Keringat

Berselimut di siang hari.
Mencari tetes terakhir keringat agar otak kembali merasakan sehat.
Bukan berarti apapun jika tutur terus merobek selaput pertumbuhanku.
Bukan menjadi apapun jika penjagaku kehilangan awasnya terhadap waktu.
Aku takut menyendiri berdua.
Menertawakan diriku daripadanya.
Menemani tiap jam kehidupan yang mati di atas layar.
Koar – koar tidak pernah baik menjadi pendengar.
Mungkin aku terlalu sibuk dengan duniaku.
Dunia yang tidak kutemukan namanya.
Di sana, tidak kutemukan diriku.
Hanya segumpal batu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s