Memalu

Menemaninya.

Seperti aku bayi yang meraba pergelangan dan tidak tahu apa setelahnya.

Anjing.

Bodoh melipat kepala.

Idiot yang memaku mata dan berharap itu cukup menenangkannya.

Apa boleh aku mengerti alasanku?

Dari ucap atau gerak perlahan mata yang aku takuti.

Aku mengerti kalau aku biasa menunggu matahari tenggelam sendiri.

Dan memang begitu.

Tapi kamu bukan.

Seharusnya aku menempa diri dan kembali dalam wujudku menjadi laki-laki.

Bukan rona murung apalagi renung.

Bukan memilih tiga dari ratusan keraguanku.

Gejalaku mulai menemukan raut bisu.

Lalu apalagi yang aku paksakan kepadamu?

Air, sekarung nasi?

Usapan ikal rambut?

Wayangpun mudah melakukannya.

Bukan hanya aku.

 

Seharusnya aku malu menjadi penunggu.

Sampah yang menjual senyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s