Maafkan, Aku Bosan

Aku bosan menulis. Sungguh. Aku tidak punya beberapa atau satu cerita. Sebenarnya… Ah tidak. Aku sedang overload jika aku malu berkata kepalaku kosong. AKU BOSAN!!!

Aku bosan membaca. Dan kali ini aku berbohong. Aku sangat jarang membaca, baik novel, majalah juga buku resep memasak celana panjang. Aku suka bercelana panjang sebenarnya. Sama sukanya dengan kamu yang sedang dihinggapi rasa bahagia di ujung sana. Aduh, mungkin sebaiknya aku bercelana pendek dan berharap rinduku istirahat beberapa detik di gantungan pakaian.

Aku bosan dengan suasana mataku. Dia tidak banyak mendapat CMYK hari ini. Grayscale mungkin. Begitu rata dan aku tetap saja terkesiap. Coba ini bukan Jumat. Tapi, kamis kemarin juga mengharukan. Kadang memang seperti itu hidup. Kadang juga tidak. Sebelum ini mataku baik-baik saja. Melihat rok mini dan aku suka. Hhhh…Hari ini tidak ada rok mini di sekolahku.

Aku bosan dengan mendung yang berakhir hujan di kepalaku. Aku merasa mereka tidak baik padaku. Tapi mereka baik pada bumi. Juga pada matahari yang kelelahan. Mau kubelikan jus mangga? Maaf, aku mulai bercanda. Hujan di kepalaku sangat deras, dan tersumbat. Kadang banjir kalau terlalu deras dan aku harus membersihkan kali-kali di kanan dan kiri kepalaku agar aku tidak perlu membeli perahu. Benda itu sangat mahal. Apalagi yang dipakai Jack dan Rose. Tapi kapal mereka bocor juga. Aduh aku terpaksa kembali bingung. Tapi kemudian aku diingatkan petugas kebersihan, “jangan buang sampah di kali ya”. Iya bapak. šŸ˜¦

Lalu aku juga bosan pada apa lagi ya… Ada yang tahu? Aku tahu. Aku juga bosan pada tidur yang dihantui lagu 3 Door Down, mereka jahat. Hanya jahat. Lagu mereka seperti alat bor milik musuh The Incredible. Lain kali, aku mendengarkannya sembari tiduran dan mereka belum juga menjadi baik.

Lalu kata kawanku aku diminta bosan pada agama. Dia agak ngawur. Tapi tak apa. Aku memang belum shalat Maghrib ketika dia menggodaku. Maafkan aku Gusti.

Malam lalu banyak kawanku sedang tidak baik. Satu kawanku tidak banyak bercanda denganku dan aku tidak tahu mesti bagaimana. Aku lupa cara berhadapan dengan lawan jenis. Terlebih sesama. Seorang lagi kawanku sedang kelelahan tampaknya dan akusempat mengejek rasa lelahnya agar marah dan lekas menjauh dari kawanku. Itu tidak berfungsi.

Dan aku sedikit bergembira malam ini karena kawan-kawan yang lain membujukku untuk menendang bola. Aku suka bola setidakmampunya aku bermain. Doakan timku menang.Ā Tapi masih ada juga yang membuatku bosan. Aku bosan menatap dompet yang rakus dan tak terkendali ini. Tanganku sering memainkan dia sesukanya. Tangan, lain kali jangan nakal ya. Sebentar lagi aku mau menendang bola dan kupastikan tulisan iniĀ butuh penyelesaian lagi nanti.

 

Ketika aku sudah tak bosan menulis lagi seperti ini…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s