Dua Tiang Tujuh Layar, Delapan Menit Itu Menjadi Panjang

Hei, aku datang lagi wrotpes. Lalu, lalu? Apa yang harus aku utarakan pada,u hari kemarin ya?

Malam tadi aku berdiskusi dengan kawan-kawan LPM Journal di ruang sempit yang kami sebut sekretariat. Kami membicarakan sebuah dokumentasi bertajuk “Dua Tiang Tujuh Layar”. Dan The Trees And The Wild adalah pelakunya. Tidak ada wajah mereka dalam film berdurasi delapan menit sebelas detik itu. Mereka punya cara lain untuk menunjukkan sesuatu, dan sesuatu itu adalah kebudayaan Indonesia yang entah sudah dilupakan atau belum. Belum, tapi hampir (mungkin).

Dalam film yang berlatar di Tanah Beru, Bukkumba, Sulawesi Selatan ini, The Trees And The Wild mengambil hati aku dan kawan-kawan lain dengan sudut pandang masyarakat Tanah Beru. Bagaimana mereka begitu mencintai pekerjaannya (yang hanya pembuat kapal Phinisi). Bagaimana setiap detil pengerjaannya adalah kecintaan. Salah satu kutipan yang menarik adalah menekankan kebudayaan mereka sebagai pelayar dan pembuat kapal yang tidak bisa dibuang begitu saja. harapan agar anak-anak mereka kelak menjadi penerus mereka adalah pernyataan yang menumbuhkan kobaran api besar dalam tungku api yang kecil. Mereka tidak akan mati. Phinisi adalah milik Indonesia dan tidak akan mati. Dua tiang tujuh layar adalah khas dari Phinisi. Menjadi sangat dimengerti mengapa The Trees And The Wild mengambil istilah ini menjadi tajuk. Yang tidak kalah penting dari film ini adalah soundtrack selama film bergulir. Tembang “Malino” menjadi pilihan yang tepat. Malino adalah tembang yang mengambangkan kembali nama daerah di Sulawesi Selatan yang terkenal dengan wisata alam dan perjanjiannya itu. Sangat Indonesia, sangat kultural. The Trees And The Wild bersikap berani dengan mendobrak semayamnya keseragaman di tanah ini. Dari segi musik khususnya.

Lalu?

Segerakan kalian mendamaikan mata dengan kultur bahari dengan menu utama Phinisi. Dua Tiang Tujuh Layar bisa disaksikan di thetreesandthewild.com. Ketika kalian menyukai film ini, apa kalian akan mencari tahu lebih jauh tentang Phinisi? Seharusnya begitu. Satu lagi, segerakan telinga kalian menjangkau kenyamanan dari The Trees And The Wild. Album “Rasuk” adalah asupan gizi yang tak akan kalian temui di televisi. Mereka melangkah lebih dekat menuju identitas The Trees And The Wild. Dan “Rasuk” adalah langkah yang tak boleh kalian acuhkan.

Rasuk. (Dipinjam dari deathrockstar.info)

Selamat malam ombak yang tertidur di sampingku. Aku mengganggu ketenanganmu terlelap lewat suara qwerty yang gemerlap. Dan mungkin kamu akan tahu kelak, kalau aku menulis ini dengan senyuman yang entah mengapa selalu datang ketika menatap datangnya lelap dari kedua matamu.

Ah gembiranya…

Advertisements

2 thoughts on “Dua Tiang Tujuh Layar, Delapan Menit Itu Menjadi Panjang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s