Darkside. Satu Dari Banyak Keinginanku

Orang bilang masa depan hilang saat kita terbang tak berpendidikan tak bergelar panjang tanpa pengalaman.
Orang bilang kau sia-siakan hidupmu untuk musik hingar bingar (tidak laku dijual) tak ada yang dengar.
Dan apa yang harus kulakukan habiskan waktu dalam kesendirian dalam kenyataan.
Berusaha mencari uang berjudi berlari melupakan cinta kita.
Hidup kita yang berantakan. (Koil – Aku Rindu)

Hari senin ini tidak sesulit banyak orang katakan. Kalaupun ada yang sulit hanyalah kantung uangku tak bersisa selain nota belanja juga sepeser 2000. Selebihnya, hari ini aku habiskan separuhnya dengan satu Ujian Akhir Semester (UAS) dan menatapi layar monitor yang tak pernah berkedip. Jejaring sosial ditambah sedikit pengetahuan tentang apa saja. Dilatari Koil juga dua album Tributenya. Mengetik, mencabik juga menampik ajakan banyak setan untuk merangkai sampah-sampah sesuai harapanku agar media ini tak memilih mati.

Aku menulis dan mengirimkan sepucuk surat elektronik pada kawanku di Magelang. Aku sedang dalam percobaan menjadi lebih berani pada tanah sendiri. Tidak jauh dari musik memang. Kawanku adalah pemegan mikrofon pada kelompok musik yang menamai diri mereka Darkside. Aku mengenal mereka sejak akhir masa SMA (2009) sebagai kelompok. Dan aku mengenal Darkside jauh-jauh hari sebagai manusia yang berada satu tingkat saat sekolah.

Darkside. (Dipinjam dari Myspace)

Lalu apa yang aku kirimkan pada kawanku itu?

Aku ingin menggali ke dalam mereka. Sebentar lagi mereka menggelar syukuran Mini Album mereka, Last Faith. Aku ingin mengikuti mereka berkegiatan, berpeluh keringat sampai tertawa lepas saat menjadi hebat. Mereka memang hebat. Aku hanya memiliki tiga tembang dari sang pemegang mikrofon Darkside. Gema Sangkakala, Kelam, dan Abnormal.

Metalcore adalah warna yang mereka usung. Perlu diketahui bahwa di kotaku sedang mengalami peningkatan pesat dalam kegemaran mendengarkan musik berdistorsi semacam Metalcore, Hardcore juga Death Metal. Tentu bukan tanpa alasan kalau aku memasukkan Darkside dalam daftar orang/kelompok yang ingin aku tulis dengan sangat panjang dan mendalam. Banyak sekali alasan dan salah satunya adalah karena secara tidak langsung mereka membawaku serta dalam keingintahuan musik yang lebih luas (Metal saat itu).

Di Magelang sendiri ada bermacam komunitas musik yang berdiri tegak, juga yang sekedar nampak dan burai diterpa debu. Akan sangat menarik melihat perspektif penggiat seni di Magelang menyikapi episode ini.

Aku tidak berada di antara mereka yang berkegiatan seputaran musik. Aku lebih kepada penikmat mereka. Bukan apa-apa. Aku pemalu.Kendala utama yang membuatku jarang berada di tengah mereka. Itu saja.

Dan keinginanku mendokumentasikan mereka dalam alfabet, suara dan gerak bukan karena aku sudah merasa sangar. Aku ingin menguji mentalku, juga melegendakan kelompok musik ini dalam sejarahku hidup di Kota Militer ini. Dalam perjalanannya nanti, tidak hanya sekedar mengisi halaman blogku. Aku ingin mereka mengisi banyak halaman lain yang lebih apresiatif terhadap perkembangan musik mereka.

Sekali lagi kukatakan aku tidak berada dalam wilayah pengamat musik. Sebagai penikmat. Tidak lebih.

Aku masih menunggu jawaban kawanku berhubungan dengan keinginanku menjamah mereka. Kalaupun belum mendapat kesempatan. Aku masih bisa mendokumentasikan mereka dalam bentuk yang lebih simpel sesuai penglihatanku.

Aku belum tahu kapan mereka menggelar launchingnya. Tahun ini pasti. Aku harus datang bukan? Dengan kegagalan memenuhi hasratku, atau keberhasilan yang pasti akan kubanggakan selama mungkin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s