Matahari, Masih Terlalu Pagi

Memesan segelas kopi. Selongsong asap. Sederet tembang pengiring pertemuanku dengan pijakan qwerty. Teror dunia maya belum akan berhenti. Ironic milik Alanis Morissette. Wish You Were Here milik Pink Floyd juga kumpulan terbaik Radiohead. Ini hari Sabtu meski hari lain tidak pernah menjadi masalah buatku. Sejenak melimpahkan penat pada ponsel yang membisu di atas alas lantai, menekan asal keypadnya. “Ah, tak ada pesan,” gumamku. Ini memang hari Sabtu yang biasa. Sama seperti hari-hari sebelumnya.

Nyaris tak ada yang menyadari agenda hari ini selain memutar mata pada layar monitor 18,5 inchi. Sisanya sekelebat malas tentang hari terakhir ujian semester juga keharusan pulang ke kampung halaman.

Oh iya, beberapa hari lalu aku sempat sedikit menyinggung tentang Danur milik Risa Saraswati. Buku itu juga milikku. Hahaha. Mungkin mereka yang menyempatkan waktu bertandang ke homepageku, menemukan tulisan itu, akan sedikit kecewa. Mengapa aku tidak mendetailkan ceritanya jika memang aku sudah membaca? Apa kamu benar-benar punya bukunya?

Benar juga. Akupun berpikir demikian. Walaupun pada akhirnya aku tetap tersenyum. Lantas kenapa?

Tentu aku akan gembira ketika mereka membaca dan mengapresiasi tulisanku yang detail buku tersebut. Tidak perlu ada yang ditutupi, aku suka mereka membaca tulisanku. Namun untuk masalah buku ini menjadi lain ceritanya. Buku yang belum genap berusia dua bulan sejak peluncurannya ini masih aku kategorikan baru. Buku ini masih seperti manusia kecil yang membutuhkan perhatian lebih dari orang tua. Dan orang tua itu adalah kalian, penyuka rentetan alfabet yang bebas sakarin.

Dalam perkembangannya sejauh ini, Danur sedang dalam tahap dicintai. Dan aku tidak ingin berada di posisi berkhianat pada kegemaranku menikam buku. Baiklah, memperoleh fisik buku itu butuh referensi. Dan begitulah caraku mereferensi buku yang aku miliki. Sebatas akhir ekspresiku membalik akhir halaman buku. Dan itu yang tampak kemarin. Akan kuhalangi rapat-rapat keinginan kuatku mencabik lebih dalam, paling tidak untuk saat ini. Aku ingin kalian memilikinya, membacanya, juga menentukan opini masing-masing. tapi tidak secepat ini.

Mungkin saja aku akan mendetailkannya suatu saat. Dalam keadaan di mana buku itu mulai beranjak dewasa. Lima bulan mungkin sudah cukup. Waktu yang cukup panjang untuk menjadi pencerita yang lebih bijak. Lebih dalam, dengan harapan beberapa komentar berkualitas merangsek dan membangun gaya berpakaianku di ranah maya. tempat yang kadang dirasa sangat nyaman.

Ya, begitulah yang ingin aku perjelas. Sebenarnya anggaplah akutidak dalam posisi pengamat bahasa atau cerita. Ekspresi menjadi caraku memberi apresiasi. Dan semua buku membutuhkan itu. dengan cara yang manis, juga dengan frasa yang sedikit miris. Tak apa, toh kita semua butuh tinggi-rendah.

Kata seorang kawanku, Danur di Jogja sedang kosong. Penggemar memang apresiatif. Tak sabar mendapati review dari mereka, kalian juga. Ayo, aku masih menunggu berbagi cerita pada seorang kawan di dekat sini. Semoga dia tidak lupa. Sebenarnya aku tidak berharap juga dia ingat. Waktu mudah lupa, mudah malu. Tapi akan menyenangkan jika “ingat” adalah caramu memanipulasi waktu. Semua sedang berusaha.

Kopiku luruh. Menguap dalam kerongkongan. Asapku luruh. Mengepul seperti medan penggorengan. Ini pagi yang sayang untuk dibiarkan sepi tanpa rumbai-rumbai bicara. Hahahaha, aku memang banyak bicara.

 

Masih dalam keadaan biasa pada Sabtu pagi. Tenang. Di maya dan nyata. Sedikit membosankan mencermati hujan tak menampakkan wajah riang. Aku bosan pada pagi yang berwarna seolah terang. Seolah-olah memberi terang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s