Sekitaran Tiga

Ini bukan sebuah permainan yang mudah terisi koin ketika kamu kalah dan terhenti.

Ini bukan air yang terkoyak  dari gelasnya, yang kering tertinggal lalu.

Permainan ini perlu henti di tangan sendiri.

Air ini tak ingin kering sepeninggal kaki.

Tak ingin menguap dibunuh matahari.

 

Kapan tiba matang jika pagi terus saja memupukku dengan remah indah tunas sebesar kuku?

Harap daunku kembang sampai waktunya nanti memilih untuk meranggas, terbang ke dunia baru.

Dunia yang asing bagi nyamanku.

Dunia yang memaksaku hidup dalam jibaku.

Uh

Jibaku, dan tetap hidup.

 

Katai aku dengan penuh.

Hidup terlalu sulit dilalui dengan semangkuk tubuh.

Habis suapku, habis sudah ceritaku.

Dan tak ada yang akan ingat siapa aku dalam mangkuk.

Gumpalan peluh tak pernah serapi menanam keluh.

 

Aku masih duduk mematung di sekitaran tiga. Sebentar lagi desis pemilik sayap menggoda pagi. Menggoda sebagian makhluk mengejar uang berlari. Sedang asap di antara ucapku melingkar deras, kuranumkan lagi pangsa sampah yang mendekati mati. Meski ada yang harus lekas disadari. Kantung sampahku butuh lebih dari sesuap vitamin berlabel literasi. Mati, mati, mati. Sungguh. Sampah di meja kerjaku menjelang mati. Baiklah. Namaku tak banyak mengilhami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s