Sabtu di Akhir Minggu

Masih saja ditemani asap, bahkan ketika hari menjelma menjadi Sabtu.

Ah, ini tidak lucu.

Barat, jalanan penuh anak sekolah setiap pagi. Utara, ladang dengan segelintir petani tengah baya. Timur, kebun belajar bagi setengah lusin anak ayam. Selatan, setengah semak setengah wahana menjemur padi agar lekas kering dan mengenyangkan. Dan tengah, bangunan yang entah mengapa diberi nama rumah. Rumah suami istri dengan empat anak.

Prolog selalu membingungkan buatku. Terlebih di kota sendiri. Selain tempat tidur, dapur, kamar mandi dan televisi, praktis tidak ada yang aku mengerti. Kelelahan? Tidak. Hanya saja (mungkin), rumah menjadi pelampiasan yang tepat setelah sebelumnya berpetualang di Jogja. Tidur, makan, mencuci, tidur, menonton televisi, tidur. Menyenangkan bukan? Yang tidak ada di rumah hanya konsumsi musik untuk sepasang gendang telingaku. Ah, mengesalkan sekali. Ada radio memang. Tapi, radio yang terjangkau hanya seputaran itu saja. Hampir tak ada beda dengan kebisingan yang biasa aku dengar (dan lihat) di acara musik pagi televisi. Padahal, aku sedang ingin mendengarkan raungan Thom Yorke. Baiklah, puasa musik seharian ini mungkin akan seburuk tidak merokok seharian. Untungnya kepulan asap tidak ikut kabur dari rumah.

Beberapa kali berkomunikasi lewat ponsel dan hampir lupa kalau ini Sabtu. Bersyukurlah ada kawan yang mengingatkannya meski tahu itu tak berguna banyak. Siapa yang akan dan ingin ingat kalau ini Sabtu? Hahaha.

Tapi hari ini tidak begitu buruk. Malam tadi aku bersua dengan kawan. Anggaplah baru, karena aku belum pernah bercengkrama banyak sebelumnya. Sedikit bahasa pengakraban. Bercengkrama ngalor-ngidul, menyeruput kopi dingin juga menelan asap banyak-banyak. Aku merasa lucu. Ini untuk pertama kalinya aku memberanikan diri bertemu orang lain sendirian. Seperti biasa, aku membela diri dengan mengatakan kalau aku pemalu. Tapi kali ini sebaiknya aku berkelahi dengan rasa maluku, dan menang sebentar. Gembira rasanya sedikit berani. Terlebih kawan yang aku temui memang ramah. Membuka cengkrama yang tidak bisa aku lakukan. Aku hanya bertanya beberapa kali tentang musik dengan sangat panjang. Lalu diam yang aku pikir lebih panjang dari bicaraku. Semoga kawanku tidak berpikir kalau aku sakit gigi.

Aku ingin belajar mengerjakan acara bersama-sama. Ingin belajar membuat media. Ingin belajar mendekat tanpa harus didera pepat. “Pepat dalam 14 inchi,” kata Melancholic Bitch.

Banyak yang mulai aku mengerti. Tapi yang paling aku mengerti adalah jangan terlalu memanjakan rasa malu, segan, atau apalah yang tidak berguna sama sekali bagi banyak orang. Ah, itu hanya teori ham. Siapa yang akan menjamin esok keberanian itu datang lagi? Kalau memang pertanyaan itu datang, aku akan kebingungan menjawabnya. Seperti biasa.

Sebelum berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada kawan, sebuah pesan mengetuk ponselku. Ah, wajah cantik itu. Dia mengingatkanku agar meluangkan waktu untuk keluargaku, selagi aku punya kesempatan berada di rumah. Terima kasih perempuan berombak. Kamu berhasil membaca gelagatku.

Oke, aku kembali ke rumah—setelah mengucapkan terima kasih pada kawan, mengangkangi jalanan yang memang petang. Dingin, dan sesudah hujan. Tapi kepalaku masih hangat, oleh-oleh cengkrama tadi.

Membalas pesanmu tadi di atas kendara menuju pulang.Setengah gembira, setengah lagi menganga. Aku tak tahu mesti berperan penuh di bagian mana. Semakin samar saja. Semakin memar jika harus mereka-reka. Sebisanya aku biasa saja.

Apa aku berbohong?

Aku jadi ingat beberapa waktu lalu kamu marah padaku karena lalai mengajakmu ke pesta buku. Dan aku sangat biasa menanggapi kemarahanmu.

Ingin mengerti sesuatu?

Aku dalam usaha tidak akan memarahi atau menanggapi kemarahan di dunia lain. Sms, atau jejaring. Selama itu bisa kuselesaikan di dunia nyata, selama aku bisa marah dan menanggapi kemarahan di dunia nyata. Satu dari beberapa yang aku pahami, komunikasi dunia lain bisa memperburuk kondisi yang seharusnya tidak terjadi. Sms bisa memnyulut kemarahan, bahkan ketika pengirim pesan tidak berniat seperti itu. Maya itu minim ekspresi. Dan itu menyakitkan. Terlalu tinggi ekspektasi dan jatuhmu semakin biru. Bahkan tidak meninggalkan warna.

11/02/12 dengan anak hujan yang memainkan lagu selamat datang pada Minggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s