Terhimpit Manusia, Terhimpit Kereta

Deru yang bertemu malam.

Gelap adalah hinggapku, kereta besi.

Bising bergulir memecah api.

Tak teredam.

Kaitan ini.

 

Apa pernah tanyamu timbul, ‘mengapa duduk ini bergoyang?”

Gempa!

Gempa!

Lemah sandarku menempa pegal di pangkal paha.

Terkungkung.

Urung bersua tenang.

Jauhkan diri dari nyaman sedang bingkai mata runtuh menghitam.

Menggarang.

 

Dari baris yang tak terhitung jari.

Penimang rejeki silih berlari.

Maafkan, aku mengabaikan lajumu.

Mereka perlu.

Sekedar seribu.

Dua ribu.

Menabung untuk anak-cucu.

Atau bertamasya di hari Minggu.

 

Memindahkan tubuhku di hadapan pintu.

Selongsong asap.

Setangkai lampu yang kerlap.

Sebelum kabur.

Memandang nafas-nafas yang sempat tertidur.

Di desakan kursi, lantai, juga kamar mandi yang terdiam santai.

 

Sela dinding mulai menerang.

Tak lama lagi.

Meski uap bercucuran.

Tak lama lagi kereta ini sampai.

 

Aduh, bising ini.

Coba mengejam dalam pejam.

Menjalanya dalam telinga.

Bising besi, udara, juga manusia yang melayang-layang.

Seolah berebut mengucapkan selamat datang.

Selamat datang pada apa?

Pada kenyataan hidup.

Mungkin.

Malam 16 yang tersaji sehari setelahnya. Tak apa. Aroma di hidungku masih sama. di atas kereta. dengan Sarasvati yang memudakan jendela. ‘Perjalanan”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s