Kamu Tertuang Setengah Dua

“Dan mengapa aku harus bertemu denganmu lagi di tempat sesentimen ini? Pertanyaan yang menyuapi telingaku tiga kali sehari. Kadang lebih”.

 

Perlahan.

Detak langkahku memintal kurus kering jalanan.

Menambat kaki.

Penuhi mataku dengan rindu yang kecil, hitam, kumuh.

Terus…

Terus…

Biarkan petir di mataku merintik gemuruh.

Lalu…

Thom Yorke jatuh.

Bukan kamu.

Kamu tak perlu jatuh.

 

Ya, aku gemar melihatmu tertuang di atas sana.

Di pijar lampu yang tak perlu mengerti siapa penikmatnya.

Apa aku berkata aku menikmati pijarmu?

Tentu aku harus berkata begitu agar kamu bisa terus tidak peduli.

Sepasang kaki ini masih gemar menunda hari.

 

“Kenapa sampah ini tak tampak sentimental sejak Thom Yorke tertera? Aduh, aku salah mencari nama. Bolehlah kamu ganti dengan desis jutaan keping milik Adele. Atau Andi Lau”.

“Diam! Aku tahu aku mulai mengigau. Jalanan memang seperti alas tidur. Pakaliah selimutmu nak. Dan tetap berlagak dewasa”.

 

“Mulai sepi,” kataku.

Tidak ada jawaban.

Pantaslah.

Penat di bahuku tak pandai bicara.

Tapi, dia pendengar yang baik.

Sama sepertimu yang tidak kuajak bersuara.

 

Tidak ada penjelasan kapan aku berhenti.

Tidak ada penjelasan kapan aku berhenti.

Tidak ada.

Lekaslah mengerti.

Esok, terik malam ini belum tentu pejam.

Dan tidak ada yang peduli.

(25 Februari yang belum lama lahir. Aku juga belum lama mengenalmu dari tidur.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s