Sampah, Teriakilah Aku Seperti Itu

Aku tidak meletakkan batu lamat-lamat dalam tanah.

Seperti yang pernah, dan selalu kamu temui.

Aku (kembali) biasa saja.

Tak dendam, meski tak bicara.

Aku hanya bosan mendengung suara.

Dan bangun dari tidurpun tak lebih baik.

Aku tak lagi biasa dengan pekik.

Bahkan ketika kamu, yang aku anggap gelombang terakhir di laut.

Karang terakhir yang aku pijak.

Yang aku ajak bernuansa di pagi buta.

Yang aku ajak tenggelam di gelap bisu.

Mana mau?

Aku sedang biasa tak mendengar langkah.

Aku sedang biasa membiarkan raut muka melempar pandang ke ufuk yang kosong.

Pada ragu yang tidak tertolong.

Tak satupun wajah kubiarkan mendekat.

Tak satupun tangan kuijinkan mengerat.

Sungguh, pada manusia aku sudah lumat.

Dan aku harus terus sadar.

Jangan biarkan diamku menembak suar.

Sampah!

Sampah!

Sangkamu, seharusnya tetap seperti itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s