Sudahkan Engkau Merasa Pulang?

 

Di luar yang berpayung mendung.

Di luar yang memagut terik.

Di luar sana, bukan jalan keluar.

Di dalam yang petang, bukanlah ruang.

Tidak ada yang mengunci.

Tidak ada yang bersikeras menahan diri.

Dan tidak pernah ada.

Tidak pernah ada yang melarangmu berlari, menjarakkan kaki dari bias yang sendat laun menyulut suri.

 

Rinai yang biasa menetes dari basah bibirmu, tak lagi mampu menjaga agar dekapku terbebas dari ruai.

Gerai yang biasa melantun dari rambutmu, tak lagi mampu menahan derai.

Dari mataku.

Dari mataku sendiri.

Dari mataku yang sendirian.

Dari mataku yang rindu bahasa selamat datang.

Dari mataku yang hampir pasti tertidur, menunggu tabirmu dari perjalanan panjang.

 

Lalu, sudikah engkau pulang?

Sudahkah engkau merasa pulang?

Sudahkah engkau merasa bahwa sisa bayanganku menunda pejamnya demi melihatmu kembali datang?

Sudahkah?

 

Dudukku denganmu masih kutunggui.

Darah di keningmu masih kucemasi.

Meski aku tahu, rindu yang pernah kutitipkan bertambah berat.

Tak pernah mengapa jika rindu yang pernah kutitipkan, yang pernah kurekatkan pada bangir hidungmu, tertinggal di lain tempat.

Bukan di sini.

Bukan di sini.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s