Sayang, Sayang Hanya Seucap

Hai sayang, banyak hal menakjubkan berjatuhan ketika kamu urung mendengar dan tenggelam ke dalam sungai.

Mulai dari lampu lalu-lintas yang lupa kalau seragam itu pernah memaksanya merah.

Dari lampu lalu-lintas yang tidak bisa menolak ketika seragam itu memaksanya hijau.

Dan kembali merah ketika kamu bukan seragam itu.

 

Hai sayang, di mana kamu?

Aku mencarimu seharian ketika kamu urung melihatku dan terbawa angin.

Rindu yang kupanggul ini baru kukelupasi seperti kulit jendela supaya aku lekas renta.

Rindu yang dicibiri tumbuhnya seperti anak haram hasil perbincangan manusia dengan dinding berornamen AK-47.

Dan aku mengangguk setuju.

 

Hai sayang, apa aku marah padamu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s