Petasan. Ledakan. Maaf Aku Rindu.

…dan Sabtu malam syahdu, yang bertepatan dengan akhir bulan Ramadhan dinamakan Hari Raya Idul Fitri…

Sedang ini bukan tentang perayaan hari.

Ini perayaan diri sendiri.

Merayakan apa?

Apa bisa?

Tiba-tiba aku mengingatmu yang semoga sedang berbahagia mendengar ledakan petasan. Melihat ledakan pakaian. Merasakan ledakan asupan.

 

Sudah menjejakkan rumah. Belum lama. Sebenarnya aku belum biasa beradaptasi dengan kondisi ini mengingat pagi ini sudah harus berbaru-baru ria sedang aku yang lama masih tertinggal di tanah lain.  Siklus tidur yang masih berserakan seperti penjaja kembang api di sepanjang jalan. Siklus sepi-menepi yang yang terlanjur lekat dan sedang hari ini dipaksa sok dekat dengan kawan sejawat. Dengan jamaat. Maaf, seharusnya aku gembira hari ini. Aku punya sedikit alasan untuk bergembira dan bersyukur sebenarnya.

Petang sudah berteriak girang ketika aku masih di tanah lain itu. Membereskan yang bisa dibawa pulang sebentar lagi. Kawan-kawan lain satu atap sudah jauh-jauh hari kembali ke tanah kebanggan. Aku yang terakhir. Walaupun bukan berarti aku yang terakhir mempersiapkan pembaharuan lebaran. Orang tua dan kakakku memperhatikan penampilanku—yang tidak karuan menurut mereka selama ini—dengan perintah membeli perlengkapan. Oke, sudah kulakukan—meski aku tidak tahu juga apa akan berhasil membuat mereka menyuarakan “Wong asline kowe ki bagus, Nang”. Persiapan menjelang pulang ini sudah seperti pemudik-pemudik lintas provinsi. Siap dengan setumpuk list jawaban untuk pertanyaan khas lebaran semacam, “Sekolah nangdi saiki le?” atau “Kok wis gede-gagah ngene saiki?”. Eit, untuk pertanyaan “Pacare ning endi kok ra diajak?” sudah kucarikan jawabannya meski ternyata tidak ada. Apa boleh aku menjawab bohong semisal “Pacare taksih mudik. Mbenjang menawi pun wangsul kulo ajak mriki.”? Tidak tidak, sepertinya mereka juga sudah tahu jawabannya dari rautku. Hahahaha.

Menancapkan earphone di telinga, masker, dan perjalanan seperti biasa. Untuk earphone, aku tidak suka suara ledakan petasan. Kaget. Lebih baik ledakan Pink Floyd dan sensasi bernama Coming Back to Life. Hanya kali ini sedikit lebih riuh mengingat sedang ada istilah Malam Takbiran. Aku selalu ingat akan cerita dan berita di tengah mudik, terutama di puncaknya. Gembira dan duka. Atau gembira yang berakhir duka. Itu biasa. Hanya, melihat secara langsung apa itu yang disebut duka, atau gembira yang berakhir duka, menumuhkan respon yang berbeda. Aku sering mendengarnya. Dan kini melihatnya.

Seharusnya sosok itu sedang di pelukan orang tua. Berdendang bersama kawan menyambut malam terakhir sebelum hari raya. Dan sosok itu tidak sampai waktu bertukar rindu. Iya, air mata ini bercecer di jalan. Bukankah orang tuanya sedang menunggu dengan gembira? Menumpuk rindu yang sedemikian besar, bersiap untuk dicurahkan. Esok hari raya yang sudah tentu menyulut gembira. Dan, aku takut untuk membayangkan apa yang akan terjadi dengan kenyataan yang kini dia, mereka, harus terima. Bagaimana hari raya mereka. Akan disimpan di mana rindu mereka.

Maaf emosional. Mungkin benar aku harusnya bersyukur diberi keselamatan untuk mencium tangan kedua orang tuaku. Menikmati tradisi ala Indonesia di hari yang dinantikan banyak manusia. Ah. Atau aku saja yang terlalu cengeng?

Emosi keduaku tiba juga melihat layar ini dihampiri oleh 12 digit nomormu.

Sungguh, tidak ada ucapan istimewa seperti ucapan sang dara kepada kekasihnya.

Biasa saja.

Terpental dalam rentang waktu yang tidak sebentar, di mana gestur dan tuturku sama buruknya melawan parasmu.

Seberapa sering aku menyusahkan hatimu?

Seberapa sering aku mempercayakan dirimu seperti batu.

Sedang kamu selalu tahu tentangku yang berkawan lekat dengan egois diri.

Maka kamu merendahkan suara.

Selalu sama.

Terima kasih, siapapun namamu.

 

19 Agustus 2012 dengan ucapan selamat menikmati kue di sela-sela gigimu.

Advertisements

2 thoughts on “Petasan. Ledakan. Maaf Aku Rindu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s