Radiohead dan Kotak Kejujuran Bernama ‘In Rainbows’

Demi warung internet  dengan mbak-mbak gemes di seberang bilik. Demi 1,6GB dengan dua jam estimasi unduh. Mari menulis saja. Sebelum kepalamu terluka dan mati tanpa melihat konser Radiohead di Indonesia.

 

Bukan salah komputer di kos jika pada akhirnya pantatku terhempas di kursi (yang notabene bekas ratusan atau ribuan pantat yang lain) sebuah warung internet. Bukan salah modem yang tidak lebih lincah dari kura-kura di serial televisi Upin-Ipin. Kalau ingin menyalahkan, alamat itu tepat ditujukan kepada anak nakal bernama malware. Habis sudah isi laptopku. Benar. Waktunya merompak perangkat lunak di warnet. Kebetulan terkoneksi dengan dunia luar, lebih baik coba menulis apapun. Oh, maaf. Untuk penggemar tulisan nggerus, aku sedang libur dari hal-hal sedemikian.

Membaca beranda NME dan mencari informasi yang bisa dipahami dalam ke-inggrisan-kuyang jongkok. Khusus untuk Thom Yorke dan kolega, aku bisa dengan begitu mudah mengarahkan pointer dan membiarkan bunyi “klik” mengantarkanku ke dunia metafisik. Sebuah artikel yang entah aku paham atau tidak, “Did Radiohead’s ‘In Rainbows’ Honesty Box Actually Damage The Music Industry?

 

 

Artikel yang mengajak pembaca memahami alasan mengapa album ke-7 Radiohead,-sekaligus album pertama yang dikerjakan dalam label sendiri-”In Rainbows”, diberikan secara gratis melalui situs resmi mereka. “Bayarlah sesuai keinginanmu,” adalah cara Radiohead melawan pembajakan musik yang tengah marak di era tersebut. Penggemar dapat mengunduh secara gratis, maupun membayar sesuai keinginan mereka. Sebuah terobosan yang masih menuai pro-kontra di kalangan musisi hingga saat ini-di antaranya Gene Simmons dan Trent Reznor. Di artikel lain yang aku baca, Dave Mustaine mengatakan bahwa memberikan karya musik secara gratis adalah perbuatan bodoh. Dave juga mengatakan bahwa mereka-orang yang memberikan musiknya secara gratis-tidak akan bertahan lama di industri musik.

Dua peluru yang coba dilesakkan oleh Radiohead adalah: 1. Menunjukkan bahwa respon terbaik melawan pembajakan adalah dengan membuat regulasi baru agar musik bisa sampai ke tangan penggemar. 2. Menunjukkan bahwa “In Rainbows” tidak membunuh gagasan/ide bahwa menikmati karya musik harus berbayar. Ide penyebarluasan album lewat honesty box membiarkan penikmat musik menghargai karya musik sesuai kemampuan mereka. Dan pada kenyataannya, “In Rainbows” tetap mendapatkan keuntungan memuaskan meskipun album ini-menurut Thom Yorke-adalah album dengan pengeluaran terbesar dibanding album-album Radiohead sebelumnya.

 

Tentu aku sedang berusaha mencari kelompok musik pertama yang memberikan albumnya secara gratis. Tapi mungkin dikarena kebahasaanku buruk, aku belum berhasil. Ok, unduhan selesai. Waktunya pulang. (17/10/12)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s