Sang Suara, Angin-angin Miskin

petang

 

Dalam suka atau duka, kaya atau papa, sampai kematian memisahkan, memisah jiwa raga kita…

 

Sang Suara itu terngiang. Bukan lagi dari kepala yang jarang menyimpan apa-apa. Rasanya malam, tepatnya di jalanan yang aku rutuki ini, suara itu terus terdengar. Sayup pada mulanya, kemudian angin-angin yang miskin beranjak. Menyelinapkannya di pepohonan, memupuknya di lubang-lubang jalan, membiaskannya di lampu-lampu, merekatkannya di papan reklame yang tumbuh liar. Bulan setengah hidup. Peluhnya berupa cahaya-cahaya samar, menetes di gumpalan awan yang muram, menimpaku hingga berbayang.

Sang Suara yang terngiang di benak jalanan. Sang Suara yang menyerang sendiriku di bahunya, bersandar pada tiang-tiang dengan cat terkelupas. Puisi-puisi yang sempat tertulis berlepasan dari tua pendarnya. Sang Suara menemukannya berserak, mengumpulkan puingnya.

Puisi-puisi yang dirapikan Sang Suara itu, puisi-puisi yang tidak pernah bisa utuh lagi maknanya.

Sampai kematian memisahkan, memisah jiwa raga kita. Kita…puisi-puisi yang tidak pernah bisa utuh lagi maknanya, dan aku yang sendiri di bahu jalanan. Yang bersandar di tiang-tiang.

 

Sang Suara itu… bukankah manusia seharusnya bernafas?

Sebentar lagi gelap melenggang. Arak-arakan datang memanggul terang. Sang Suara, angin-angin miskin, bukalah jendela.

Sambutlah. Dalam suka atau duka, kaya atau papa.

 

(17/7, Melancholic Bitch – 7 Hari Menuju Semesta, tidak ada hari sisa untuk kita berdua.)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s