Selat Kesepian

jam-bulan

Sepi. Tangan kiriku menopang berat kepala. Detik-detik jam tangan merambat, menyinggahi cuping telinga. Keadaan ini, seperti aku sedang diberitahu kalau hidup ini diberi waktu.

Bukankah ini sangat menyakitkan. Setiap manusia dengan jam tangan terpasang di pergelangan tangannya nampak seperti tengah menghitung hidupnya sendiri. Mengawasi hidupnya sendiri: apa yang akan datang, apa yang akan pergi.

Lihat, bulan sedang terang meski langit terjangkit mendung. Aku terus mengawasi, apakah sebentar lagi awan-awan akan menghalangi pendarnya. Seperti itulah yang aku pikirkan sekarang. Mungkin bulan jengah juga melihatku sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.

Mungkin alangkah lebih baiknya jika jarum penunjuk detik tidak perlu ada. Suara itu, sangat menyakitkan.

Pesawat melintas di samping bulan. Sorotnya berkedip-kedip. Apakah lampu di badan pesawat itu akan redup suatu hari? Pasti tidak enak rasanya, melihat pesawat melintas terburu-buru, di atas kepala manusia tanpa berkedip-kedip, memberitahu keberadaannya.

Bagaimana rasanya, jika suatu hari manusia mendapati sinar bulan berkedip-kedip? Dan di setiap kedipnya, yang semburat beraneka warna. Seperti lampu disko. Apakah akan menyenangkan?

Dan begitu tersadar dari lamun, bibirku pecah.

Kesadaran, yang entah disadari atau tidak.

Kursi-kursi menjeritkan kekosongan.

(20/7, selat kampus bersama halaman-halaman Norwegian Wood)

 

“Mana bisa disebut revolusi kalau mereka hanya menghambur-hamburkan istilah yang tidak dipahami oleh rakyat biasa?”-Midori

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s