Puisi Murung

 

 

Nyalanya begitu saja

Aku berpuisi di bawah cahaya-cahaya belia yang tergelincir pada angin tua

Terbata dalam semilir

Terkantuk, bibir pena menjerit-jerit

Halaman kertas berbaris yang mulai usang

Sepertiku, sayang…

 

Semut berdoa, nyamuk diterbangkan nyanyian

Seperti, menjadi manusia adalah hal yang paling menjanjikan

Kukatakan kepadamu, cemasku telanjang di kamar mandi yang pucat dingin

Tergenang di air diam

Setiap pagi buta, kecemasan itu mengguyur tubuhku

Menjaga agar ketidakwarasanku tetap segar

Kecemasan yang lekat itu pasti kukembalikan.

Tepat pada baris terakhir puisi ini

 

Dinding mengaduh…

Embun-embun keruh…

Bait-bait ini hampir selesai ketiga gelap terbunuh.

 

Bernyanyi…

Berpuisi…

Huruf-huruf letih dari penyair murung

 

Cemas, harum tubuhmu semakin jauh…

Sayang… Apakah baik-baik saja jika puisi ini tak utuh?

 

 

(29/7. Ada yang mengiring, menggiring, Sheila on 7 – Tentang Hidup. )

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s