Dari Dua Puluh Satu untuk Dua Puluh Dua

Ketika membaca ini, kamu boleh ditemani alunan piano Birdy. Sedang aku ditemani alunan piano dari album Happy Coda milik Frau. Album ini baru dirilis Senin lalu. Jika kamu penasaran, kamu boleh mengunduhnya. Ketika aku menulis ini, aku memulainya dengan tembang Water, kemudian Whispers. Dua tembang yang aku gemari saat pertama jumpa. Aku tidak tahu apakah ketika mendengarnya, kamu juga akan menggemari dua tembang itu atau tidak. Lebih baik tidak. Hahaha.

“Satu minggu?” tawarku pada 14.

“Oke,” balasmu.

Ini adalah hari terakhir permainan itu. Yang itu artinya aku dan kamu akan bertukar sapa lagi pada 22. Besok. Tapi seperti peraturan dalam permainan itu, hari ini sebelum pukul 22.00 aku dan kamu harus mengumpulkan aksara setangkai demi setangkai di tempat ini. Sebelum 22.00? Tentu, karena sebelum 22 adalah 21. Hari ini. dan lagi usiaku juga 22. Semoga tidak buruk untukmu. Meski terpaut 60 menit, aku akan membacanya dengan waktu barat. Tenang saja.

Eh, aku baru tahu kalau penulisan hari raya kemarin menurut kaidah adalah “Idulfitri”, bukan “Idul Fitri”.

***

Dua hari setelah sepakat untuk berdiam, aku mengantarkan diri sendiri ke Yogya. Memainkan peran sebagai mahasiswa lagi. Tapi Yogya masih sepi. Bukan, bukan karena tidak ada kamu. Tapi memang benar-benar sepi. Hanya ada beberapa kawan. Banyak warung makan yang belum buka.

Hari Minggu, aku kembali lagi ke rumah. Motor aku tinggal di kos dan memilih naik kendaraan umum. Mulai dari bus sampai angkutan desa. Kamu pasti belum pernah menaikinya. Dan tidak akan mau, aku rasa. Aku pulang hanya sebentar, mengambil beberapa barang yang belum terangkut. Kebetulan Bapak mau mengantarkan barang-barang itu. Barang bawaan ke Yogya itu selalu lebih banyak dari yang dibawa ke rumah, entah kenapa. Salah satu barang yang terangkut ke Yogyakarta adalah seperangkat alat menanak nasi. Dibelikan oleh Ibu dalam rangka menuruti keinginan anaknya yang sok-sokan ingin berhemat—tapi kata “berhemat” itu bisa jadi hanya kiasan.

Hari Minggu, saat aku kepulanganku itu, kampong sedang mengadakan lomba 17-an. Sedih, aku tidak bisa melihatnya karena mesti lekas berangkat lagi ke Yogya. Sudah tujuh tahun aku tidak ikut lomba di kampung. Soal lomba 17-an, aku jadi ingat pernah memenangkan lomba adzan saat masih kelas lima SD, dan mendapat medali berupa lima buah mie instan. Siapa yang menyangka kalau sebelas tahun kemudian juara adzan itu tidak sedikitpun punya aura relijius? Aku masih tertawa kalau mengingatnya. Sekaligus sedih karena itu berarti usiaku sudah bertambah banyak sekali.

Kamu harus percaya kalau sejak Senin kemarin, pukul enam pagi aku sudah menanak nasi di kamar kos. Selasa juga, hari ini juga. Bedanya hari ini dengan hari sebelum-sebelumnya hanyalah, hari ini nasi itu—ditambah milik Uci—aku makan bersama teman-teman yang kebetulan sedang di kampus. Kamu pasti iri begitu tahu bagaimana suasananya. Yang membuat malas Cuma satu, membersihkan alat penanak begitu selesai digunakan. Iya, aku pemalas sekali kalau di Yogya. Kebalikan denganmu.

2013-08-21 17.35.45

2013-08-21 17.38.32

Malam di Yogya banyak kuhabiskan berkumpul di kafe bareng kawan-kawan. Tempat berkumpul terakhir (Selasa malam) baru pertama kami kunjungi. Bagus, meski tidak mewah. Lain waktu kamu harus ke sana. Kebetulan lagi, bulan sedang purnama. Duh! Oh iya, kafe itu berada di jalan belakang kampus. Ada lagi, aku janji terakhir, kafe ini menuruti permintaan kami untuk memutarkan tembang-tembang Sheila on 7 selama kami duduk-duduk di sana.

Sudah bosan membacanya?

Meski sedang dalam masa berdiam, aku dan kamu masih bertemu di linimasa meski tidak saling sapa secara langsung. Jurus nomention masih jadi andalan. Terutama kamu. Huuuu… Kadang merasa lucu juga, padahal aku dan kamu hanya sepakat berdiam di pesan singkat. Bukan di dunia maya. Tapi sama-sama tidak mau bertautan di sana. Tak apa, biar rindu semakin menggunung. Aku ngomong opo sih!

Hei, bagaimana satu minggu milikmu?

Katanya, ada yang sedang berusaha keras agar berat badannya berkurang. Tidak makan nasi seharian. Sarapannya diganti buah-buahan. Wih, niat betul. Tapi siang sedikit makan brownis buatan saudaranya. diet macam apa coba. Aku tertawa saja, ah. Perempuan memang aneh. Suka memperumit diri.

Katanya, ada yang ingin lekas kembali ke Yogya. Berkumpul bersama kawan-kawan, berkegiatan. Sekali waktu ingin double chocho di Rumah Cokelat. Sekali waktu ingin menulis apa saja di lantai tiga. Sekali waktu ingin tiduran saja di kamar kosnya, sembari menghadap layar.

Katanya, ada yang ingin lekas 22, besok. Ingin lekas bercerita banyak. Aku tidak sabar mendengarkan dengan baik. Sesekali mencandai ceritamu yang membuat geli. Tak apa, kan?

Katanya, ada yang rindu padaku. Ingin lekas bertemu. Hahaha. Jangan percaya. Yang barusan aku tulis itu asal.

 

Lekas kembali ke Yogya. Kawan-kawanmu rindu. Kawan-kawanmu, lho. Bukan aku.

 

 

(21/8. Happy Coda milik Frau. Dikejar janji menulis.)

Hore, sebentar lagi berkirim pesan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s