Mereka Menuju Semesta

image

“Jangan kau buka pintu itu,” ujarmu. Jangan sekalipun. Pintu dengan gembok besar yang berkarat, dengan kesepian yang mengikatnya erat-erat seperti rantai, dengan gagang pintu yang entah sejak kapan berdebu. Di balik pintu itu tersimpan segalanya, seluruh semesta. Dan ujarmu, meski aku berhasil menata ketakutan-ketakutan itu dengan nafas yang lembut dan teratur, aku tidak pernah menjadi salah satunya. Tak pernah menjadi anasir.

Dan sampai hari ini, pintu itu tidak pernah kubuka. Tak pernah lagi aku mengintip melalu lubang kuncinya, ruang gelap yang seperti tak berujung. Tak ada semesta sebagaimana yang aku lihat di peta. Semesta yang bagaimana yang ditinggali tawa dan tangis? Di peta, tak ada keduanya. Di televisi, perkiraan cuaca tak membuat manusia lupa membawa ponsel. Tak ada payung. Payung tak pernah menyelamatkan siapapun. Dan entah sejak kapan, hujan datang dari tanah.

Dinding kamar yang mulai kusam itu masih menggantungkan foto kita. Foto yang kamu perlukan untuk hari yang kamu nanti (Setelah aku mengucap demikian, kamu protes dan memintaku mengganti “kamu” dengan “kita”. Aku menurutinya meski sebenarnya tidak penting. Tapi aku tidak akan mengatakan tidak penting, karena hari ini kita baru saja selesai dari pertengkaran). Foto yang kita perlukan untuk hari yang kita nanti. Di foto seukuran jendela bus kota itu, aku tersenyum—yang jika dilihat dengan cermat justru membuatku lebih mirip Donald dibandingkan laki-laki usia 20. Dan aku belum gosok gigi ketika foto itu diambil di pinggir kolam belakang rumah nenekmu. kamu menggamit lenganku, memiringkan kepala hingga menyentuh lengan kananku. Kamu juga tersenyum. Sedikit lebih manis dari senyum Anna Kendrick di film 50:50. Pernah melihat Anna Kendrick menggamit lengan bebek?

Hari penantian itu, tidak pernah bisa diketahui meski seluruh kalender di dunia mereka kumpulkan…

Kereta terakhir untuk hari ini baru saja lewat, tepat setelah aku menekan tombol “play” pada Walkman, lagu pertama sisi pertama album Binaural milik Pearl Jam: Breakerfall. Aku menemukannya mengendap di dalam salah satu tape deck radio rusak yang ditumpuk di halaman belakang toko elektronik, satu blok sebelum stasiun ini. Aku memutar kepala, mencari-cari barangkali ada orang yang ketinggalan kereta juga. Tak satupun, selain seorang petugas yang nampak lebih sering menguap daripada bernafas, dan seorang pedagang nasi yang mengumpat karena sisi kanan sandalnya hilang di kereta tadi. Dia keluar stasiun dengan kesal, menepuk kepalanya dengan sandal kirinya. Aku tidak ingat apa dia kemudian membuang sandal yang tak lengkap lagi itu, atau tidak. Meski aku sedang mendengarkan Pearl Jam, aku tidak akan tiba-tiba menganggap pedagang itu adalah Eddie Vedder yang menyamar. Mungkin petugas stasiun yang menguap itu…

Sudah lewat tengah malam, yang berarti enam jam lagi kereta pertama hari ini akan datang. Sisi pertama Binaural sudah selesai. Sisi kedua dibuka dengan Of The Girl Aku berbaring di salah satu kursi panjang yang tersedia di ruang tunggu stasiun. Menatap langit-langit stasiun yang remang. Apa benar kereta pertama hari ini akan datang? Bagaimana jika masinisnya sakit? Tidak. Bagaimana jika masinisnya terlambat datang karena mencari deodorant yang disembunyikan anaknya di salah satu ruang di rumahnya? Apa anak masinis itu akan dimarahi? Apa masinis itu tetap akan berangkat bekerja tanpa memakai deodorant? Atau dia terpaksa memakai bedak penghilang bau badan milik istrinya? Bagaimana jika ada yang menyadarinya?

Aku bangun ketika tiba-tiba merasakan ketakutan yang luar biasa. Stasiun menjadi gelap. Sekejap kemudian, kereta-kereta tak bermasinis berlalu-lalang di hadapanku. Entah, apa itu kereta atau bukan, tapi yang berlalu-lalang itu membunyikan klakson dengan sangat keras. Saling menyahut, membuat telinga dan kepalaku sakit. Badanku merasakan ngilu yang sangat, tidak bisa berdiri. Suara-suara itu sangat keras sampai aku tidak menyadari Parting Ways telah selesai dimainkan. Sebuah suara yang paling keras melompat dari rel, menuju ke tempatku duduk. Dan…

Semuanya sunyi. Tidak ada apapun yang rela bersuara, sampai-sampai aku bisa mendengarkan suara nafasku sendiri. Aku mendengarnya begitu teratur. Sekelilingku begitu jelas, sampai-sampai aku bisa melihat peri-peri yang terkurung di dalam bola lampu stasiun. Begitu kecil, begitu terang. Satu dari sekian ratus peri yang terkurung itu sempat bertatapan denganku. Senyum itu… Anna Kendrick di film 50:50.

Semuanya begitu awal. Masinis itu di dalam kereta dengan ketiak yang basah. Aku hampir tidak melihat wajahnya selain kunci yang tergantung di lehernya. Kunci gembok sebuah pintu. Pintu dengan kesepian-kesepian yang merantainya. Kereta ini, yang membawa manusia-manusia menuju semesta. Dan aku bukan salah satunya. Kereta itu telah berangkat. Aku tidak beranjak dari kursi panjang ini, menunggu kereta yang mengantarku pulang ke kamar dengan dinding yang kusam. Kereta yang entah kapan datang.

Sebuah kereta datang, tanpa masinis. Kereta ini belum pernah aku lihat sebelumnya. Warnanya putih bersih, seperti tak pernah tersentuh usia. Seorang petugas yang semalam aku pikir Eddie Vedder berdiri di hadapanku. Dia memberitahu kalau aku orang yang beruntung. Perjalanan kereta ini tidak pernah dijadwalkan. Tidak pernah ada yang berhasil menemui kereta ini sebelumnya. Aku hampir tidak peduli, sampai petugas itu berbisik, “Kereta ini, kereta yang mengantarkan manusia ke hari penantian…”

Kamu terduduk di sana. Di gerbong terakhir kereta. Kamu menyunggingkan Anna Kendrick begitu melihatku datang. aku mengambil tempat duduk di sampingmu. Seperti biasa, kamu menggamit lenganku. Kali ini giliranku menyunggingkan Donald. Seperti dalam foto yang kamu pegang di tangan kananmu. Kita harus berangkat hari ini.

Ya, kita tidak bisa menunggu sampai hari esok.

(1/4. Perpustakaan, The Killers – Runaways.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s