Perayaan

image

Kamu bisa berlari membasahi kaki begitu sampai. Atau duduk dengan tenang dan minum, merayakan sampaimu dengan senyum.
Ini juga sebagai perayaan, dari akhir media belajar ini.

(Foto: Sabtu, 10 Mei 2013. Pantai Ndrini.)

Advertisements

Membaca Sajak Chairil Anwar untuk Kali Pertama

Pada awal bulan Mei yang biasa saja, sebuah artikel tidak sengaja ditemukan di halaman Tumblr kurangpiknik. Judulnya: Membaca Chairil, Memahami Kereta. Artikel ini dipublikasikan pada 28 April, berisi pembacaan penulis (Zen R.S) mengenai sajak Chairil Anwar yang berjudul Dalam Kereta.

Tidak perlu berbohong, pihak ketiga tersebut bersanding dengan laman-laman yang lebih dulu dibuka: Twitter, Facebook. Tidak ada lagi Friendster. Apa daya, surga testimoni itu sudah lama beralih wujud menjadi wahana bermain, dan Play Store membuat kita lupa bahwa Waptrick juga Getjar bukan sekedar cerita rakyat.

Dalam kereta.
Hujan menebal jendela.

Semarang, Solo…, makin dekat saja.
Menangkup senja.
Menguak purnama.

Ca(ha)ya menyayat mulut dan mata.
Menjengking kereta. Menjengking jiwa.
Sayatan terus ke dada.

 

Jujur saja, terlalu banyak hari dimana sajak tidak menjadi lebih penting dibandingkan belajar-bekerja. Bahkan bisa menjadi tidak lebih penting dibandingkan aktivitas baca-tulis di sosial media. Dan segala tentang Chairil (jika mau) boleh berhenti di pengetahuan: yang menginspirasi Ariel (Peterpan, lalu Noah) dalam penulisan lirik. Tapi—mau tak mau kita harus mengamini—selalu ada cara-cara tak terduga untuk mengingatkan manusia akan suatu hal.

Di atas sebenarnya pembukaan untuk narasi Reuni SMA saya. Namun ternyata jadwal reuni itu belum jelas, sehingga saya yang membuat narasi tersebut untuk tanggal 26 Juli 2014—tanggal lahir Chairil Anwar 26 Juli 1922—harus mengganti narasi reuni dengan yang baru. Narasi yang lama tidak bisa dipakai sebelum tanggal reuni ditentukan. Jadi tulisan tersebut saya pindahkan kemari meski tidak dalam versi lengkap.

Terus terang saja saya sedang menggemari tulisan-tulisan Zen R.S beberapa bulan terakhir—terutama di kurangpiknik dan panditfootball. Narasi di atas bisa juga dikatakan untuk merespon kegembiraan saya setelah membaca artikelnya di Tumblr—meski niat awal tulisan saya bukan untuk publikasi di blog. Tak apalah, sekalian belajar. Pengakuan yang menurut saya harus: “Dalam Kereta” adalah sajak pertama Chairil Anwar yang saya baca. Kalau bukan karena gaya penulisan Zen R.S yang selalu menyenangkan, saya mungkin belum membaca satupun Chairil sampai hari ini. Hore.

 

(7/5. Selama menulis narasi ditemani album Land milik Patty Smith dan The Best of milik Bob Dylan.)

Mengubur [at]merakitsampah

Semoga saya sudah pernah bilang kalau menulis dalam posisi mau-tidak-mau itu cukup sulit. Jika belum, saya akan salin-rekatkan tulisan saya yang belum pernah dipublikasikan—tulisan untuk tembang Tanah Indah untuk Para Terabaikan, Rusak dan Ditinggalkan.

“Bukan perihal mudah, menulis dengan dasar kesepakatan. Selalu saja ada yang merumitkan: makna, alur, gagasan. Bagaimana menyampaikan tanpa menuhankan pencapaian tunggal. Bagaimana menceritakan tidak lagi diukur dari jumlah kawanan yang hadir, dan pulang. Lalu pikiran-pikiran tentang ‘bagaimana’ membuat saya sakit kepala. Yang berulang kali berbisik di telinga tidak pernah mau bertanggung jawab atas apa-apa yang akhirnya harus saya dengar. Sedang di saat yang bersamaan, dunia tidak merasa perlu berhenti berputar.”

Saya lupa mengucapkan salam. Hai.

Sebenarnya tulisan kali ini tidak penting sama sekali, membuat saya malas. Apalagi, jika tidak berhati-hati dalam menulis, saya akan sangat mungkin dihadiahi diagnosa: mengidap narsisme akut. Hiii… Lalu bagaimana caranya berhati-hati? Lah, mau menulis tentang apa memangnya?

Hari tadi (6/5), saya akhirnya menguburkan nama akun twitter pertama saya: [at]merakitsampah. Tentu mengganti nama akun sosial media bukan perkara besar. Nama pertama di FB saya Ilham Bagus Prastiko, lalu saya ganti di akhir SMA dengan Ilham Darah Kotor, lalu saya kembalikan lagi ke nama asal beberapa bulan setelahnya. Oh iya, nama akun Twitter saya sekarang [at]ilhvmbp.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu kekinian perihal sosial media. Membuat Friendster terlambat, Facebook terlambat, Twitter dan Google+ juga. Saya bergabung di Twitter baru pada 23 September 2010 (tertulis di Tweetcaster) dengan nama [at]ilhambp (atau [at]ilhambagusp saya lupa). Baru beberapa waktu setelah membuat blog ini saya mengganti nama di akun twiter saya menjadi [at]merakitsampah. Berarti kemungkinan paling cepat, saya mengganti nama akun Twitter saya pada Desember 2010.

Saya tidak perlu menceritakan alasan penggunaan nama merakitsampah, baik di blog maupun di beberapa akun lain. Tapi saya akan menceritakan mengapa saya memutuskan untuk menguburkan nama merakitsampah di Twitter. Saya yakinkan sekali lagi ini tidak penting. Ada yang mau mencatatnya? Ciiiiih…

Mungkin, dalam asumsi saya (dengan narsisme yang semoga belum akut), merakitsampah sudah kadung melekat dengan saya. paling tidak di lingkungan sekitar. Jika dihitung dari kali pertama blog ini dibuat, berarti sudah (atau baru?) tiga tahun lebih saya menggunakan nama maya ini. Barangkali tiga tahun sudah cukup untuk membuat kesimpulan Ilham Bagus Prastiko = merakitsampah. Belumpun tak masalah.

Senangkah? Tentu. Hampir seperti Pejalan Jauh, yang dikemudian hari saya ketahui aktornya adalah Zen R.S atau Pelukis Langit yang baru saja saya gugeling lagi, dan ternyata adalah Felix Dass. Sebenarnya membandingkan dengan keduanya amatlah berlebihan. Tapi sudahlah.

Sebenarnya… saya bosan, kalau tidak mau dikatakan mulai membenci nama maya ini. Tapi apa iya tanpa alasan? Tiba-tiba bosan, tiba-tiba benci. Begitu?

Iya. Ini lucu. Saya memerlukan hampir satu minggu untuk mengganti  nama akun Twitter saya. Textbox untuk username sudah saya kosongkan. Sering sekali. Bingung mau menggantinya dengan nama apa. Sampai ketiduran, lalu ketika bangun sudah harus bergegas pergi. Tapi akhirnya tadi berhasil. Memakan waktu tiga jam sampai saya tekan “Save”. [at]ilhvmbp.

Entahlah. Saya seperti dihujani ketakutan atas nasib nama maya ini. Teramat takut, sampai-sampai saya jatuh hati untuk membencinya dengan penuh-seluruh. Untuk meniadakannya dimanapun bisa. Kecuali di blog ini, mungkin. Mungkin juga tidak.

Tidak pernah ada yang tahu, kecuali jatuh cintamu biasa saja. Bencimu begitu-begitu saja.

 

 

(7/5. Menanggapi “Waaaaa [at]merakitsampah sudah pensiun,” kata Uci. Pensiun, hanya untuk yang masa kerjanya berakhir, Dik. xD )