Kami yang Berusaha Turut Bercinta di Luar Angkasa


Di rentang waktu yang berjejal dan memburai, kau berikan

Sepasang tanganmu terbuka dan membiru, enggan

Di gigir yang curam dan dunia tertinggal, gelap membeku

Sungguh, peta melesap dan udara yang terbakar jauh

di atas adalah empat baris pertama dari lirik lagu Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa. Judul barusan sejatinya milik kolektif bernama Melancholic Bitch (Melbi), namun dihadiahkan kepada Frau—untuk dibawa dalam album Starlit Carousel. Dalam tembang berdurasi 6:27 menit itu, Leliani Hermiasih berbagi suara dengan Ugoran Prasad (Melbi). Bagi saya yang baru mendengarkan—baik Melbi maupun Frau—dalam empat tahun terakhir, Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa lebih saya kenal lewat Frau. Asal-usul tembang inipun baru saya tahu ketika tidak sengaja menyaksikan panggung perpisahan Melbi di Tembi. Di panggung itu, Frau dan Kartika Jahja turut serta.

Namun, saya menulis empat baris di atas bukan dalam rangka membahas perjalanan Melbi maupun Frau. Saya tidak akan cukup bahan bakar untuk menjelajahi mereka. Dan saya pikir, mereka berdua adalah penggiat musik yang sulit dimengerti. Ini benar-benar subyektif, saya rasa. Maafkan. Atau ada yang menganggap saya akan mengurai liriknya yang kata saya, “Aduh!” Tapi saya punya cerita menarik tentang tembang ini.

Jumat sore (10/01), saya mengajak seorang adik angkatan di kampus saya untuk mendengarkan tembang ini di beranda ruang sekretariat kami. Saya cari liriknya di internet (entah benar atau tidak) dan saya print lima rangkap. Seselesainya mendengarkan, lirik itu saya berikan satu. Kebetulan, saat saya dan dia iseng akan membahas liriknya, tiga kawan tiba-tiba ingin turut membahas. Entah apa sebab mengingat mereka belum pernah mendengarkan sebelumnya. Tapi tak apa, karena memang lebih menarik—dan ini terbukti. Jadi diskusi dimulai dengan lima orang: saya, Igo, Sintya, Alif dan Untung.

Saya harus memberitahukan lebih awal jika diskusi kami tentang lirik ini menghabiskan waktu dua jam. Selesaikah pembahasan liriknya? Hanya empat baris yang berhasil kami diskusikan, seperti lirik yang saya ketik di awal. Dan entah, apakah interpretasi kami benar, atau salah. Saya yakin yang kedua. Tapi saya coba membela diri lewat ucapan Farid Stevy (FSTVLST), “Ketika sebuah karya sudah dilempar ke masyarakat, maka karya itu milik masyarakat.” Kurang lebih begitu.

Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa saya putar ulang untuk melatari diskusi. Pertama kali yang saya tanyakan ke kawan-kawan adalah, apa yang bisa kita bayangkan dari judul itu?
Kami membutuhkan waktu tidak sebentar untuk sekedar menjawab asal. Beruntung kami mencatatnya.

Alif: Ada tiga jawaban. Yang pertama, orang yang bercinta beneran. Yang kedua, sepasang kekasih yang belum menikah. Ketiga, perempuan dan pianonya.
Igo: Sepasang kekasih yang merasakab lain dari yang lain.
Sintya: Sepasang kekasih yang berada di luar batas.
Untung: Sepasang kekasih yang jalinan asmaranya spesial. Mereka dipertemukan di ruangan lain.
Saya: Sepasang kekasih yang telah mampu meniadakan aku dan kamu. Hanya ada kita. Istilahnya, di dalam kita, gravitasipun tidak mampu menahan.

Di rentang waktu yang berjejal dan memburai, kau berikan

Saya: Pasanganku memberikan dua pilihan waktu, yang sejenak (berjejal) dan yang tak terbatas (memburai), aar aku dapat memilih.
Alif: Pasanganku yang tetap bisa memberikan waktu kepadaku walaupun pasanganku sibuk.
Sintya: Walaupun waktu masing-masing tidak selalu cocok, namun selalu menyediakan kesempatan.
Igo: Pasanganku selalu ada untukku di saat apapun.
Untung: Saling memberikan waktu

Sepasang tanganmu terbuka dan membiru, enggan

Igo: Mau melakukan apapun. Enggan berhenti.
Saya: Pasanganku mau melakukan pengorbanan namun tidak mau dianggap berkorban.
Alif: Pasanganku mau melakukan apapun. Tapi aku ngga mau kalau begitu.
Untung: (Tidak menjawab)
Sintya: Aku tidak mau kalau pasanganku memberikan apapun.

Di gigir yang curam dan dunia tertinggal, gelap membeku

Untung: Perjalanan cinta sepasang kekasih yang smudah melewati berbagai rintangan.
Sintya: Sepasang kekasih itu belum bertemu. Keduanya dalam keadaan galau.
Saya: Sepasang kekasih itu tidak peduli akan apa yang orang lain katakan/pikirkan tentang mereka.
Igo: Sepasang kekasih yang sudah kehilangan dunia nyatanya. Dan mereka menyesal telah masuk ke dunia itu.

Sungguh, peta melesap dan udara yang terbakar jauh

Alif (baris 3 dan 4): Mereka sudah meninggalkan dunia, melewati orang-orang yng tertinggal dan jauh di atasnya.
Untung: Petunjuk yang dipakai kebanyakan orang sudah tidak terpakai lagi bagi mereka.
Saya: Mereka sudah terlalu jauh pergi. Tidak ingin tahu jalan kembali. Karena cinta itu sangat mereka nikmati.
Sintya: Perjalanan cinta mereka sudah melewati kisah orang lain.

Empat baris pertama di atas selesai pukul enam kurang beberapa menit. Selama dua jam tersebut, sangat jelas kalau kami juga banyak berdebat. Sebenarnya kami lebih banyak bingung. Kepala kami sudah panas. Hahaha. Kami menunda pembahasan selanjutnya mengingat masing-masing dari kami memiliki kegiatan. Jika ada waktu luang yang tiba-tiba, kami berjanji akan melanjutkan diskusi ini.

Sebelum pulang ke hunian masing-masing, saya sempat bertanya apakah diskusi ini menyenangkan. Saya melihat kelelahan di wajah kawan-kawan. Saya juga melihat tawa.

Ketika akan menuliskan hasil diskusi tersebut, saya membaca ulang notulensi. Dan tertawa adalah hal pertama yang saya lakukan. Hampir saya mengurungkan niat menuliskannya, mengingat skill ngawur kami yang terlalu dominan. Tapi ini bukan kejuaraan menulis dan interpretasi. Jadi yang kami perlukan di sini hanyalah percaya diri. Bahwa ada yang lebih ngawur dari kami, kelak.

Katakanlah seperti ini… Kami tengah berusaha turut bercinta di luar angkasa.

Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa…

Advertisements

Semoga Ada Koil Hari Nanti.

Tak ada Koil hari tadi. tak ada aksi panggung, yang sebelumnya hanya bisa dinikmati dari halaman Youtube dan artikel kawan-kawan yang sempat menyaksikan lagi-lagi hanya bisa dipupuk lebih lama, sampai waktu yang tak berkabar. Katakanlah, ini satu-satunya kekecewaan di hari ini. melihat kegemilangan Koil menyihirku untuk hadir di salah satu gelaran musik di dekat sini. Mereka telah datang ke area, dan kabar tidak terlalu baik berkunjung datang. Linimasa ramai, entah yang berkepentingan entah tidak tapi tak berhenti berharap agar menjadi penting. Selain itu, kekecewaan yang biasa. Tapi hujan bukan salah satu diantara yang biasa itu.

Bagaimana kabar peringatan Waisak di Candi Borobudur? Ramai? Blits kamera menyalak-nyalak di wajah pemilik hari raya? Manusia-manusia tak berkeperluan hilir-mudik di antara pengkhusuk ritual? Aih. Tidak tahu mengapa, linimasa seolah-olah sedang mengajarkan manusia untuk menjadi bijak secara massal, dengan diri mereka sendiri sebagai penasihatnya. Entah sebagai contoh nyata atau tidak. Sebenarnya tak apa, sungguh. Aku hanya sedikit aneh saja. Lah, sedang aku tak ada bedanya.

Belum ada Koil hari tadi. Bisa berarti belum ada yang bisa aku ceritakan tentang aksi panggung yang paling aku nantikan satu tahun terakhir, kepadamu. Meski belum tentu kamu akan suka mendengarkannya. Belum tentu kamu akan bisa meluangkan waktu untuk bertemu, hanya mendengarkannya. Tak apa. toh, tak ada Koil hari tadi. Jadi tak ada alasan untukku berpikir jauh seperti ini… Berteduh di kala hujan esok hari, berdua, sembari mendendangkan Lagu Hujan yang Otong nyanyikan di kala hujan hari tadi.

Semoga ada Koil hari nanti.

(26 Mei 2013, 03:13. Dengan, lagi-lagi, Koil: Megaloblast dan Black Shines On. Hari ini aku akan mengikuti Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2013. Aku harus pulang ke rumah, lalu datang ke TPS, merusak wajah semua calonnya.)

Cinta Yang Mengerikan

It’s a terrible love that i’m walking with spiders

It’s a terrible love that i’m walking in

Ini memang cinta yang mengerikan. Pada hujan yang terlampau rintik. Pada daun yang kian enggan menetap di ringkih ranting pohon melati. Pada rentaku yang tersamar pada embun jelang pagi. Pada pagi yang diinjak kasar matahari.

Lagi.

Lagi.

Cinta yang mengerikan ini tak jua lelah berjalan. Tanpa stasiun pemberhentian.

And I can’t fall asleep without a little help

It takes a while to settle down my shivered bones

Wait til the panic sets

Seharusnya kamu ingat bagaimana kamu mengacak-acak mataku agar lekas siuman. Membuka tirai dan tuas jendela seperti orang berkesibukan. Ah, aku ingin menulis puisi, sajak, apa saja. Apapun selain membasuh muka dan ingatan. Pada cinta yang mengerikan.

Aku melihatmu, dalam seekor kupu-kupu.

Aku melihatmu dalam mata seekor kupu-kupu.

Dalam bening yang sesekali berkilatan.

Berpendar diterpa riang sang terik.

Aku menikmati diriku di dalam elok matamu.

Bahkan ketika butir air berlabuh di ujungnya.

 

Aku melihatmu, dalam seekor kupu-kupu.

Aku melihatmu dalam mata seekor kupu-kupu.

Mengurai cerita di gelombang rambutmu yang ranum kecoklatan.

Diterpa angin nan membelah bercabang.

Aku hinggap di sana.

Menunggu cerita.

Cerita darimu, dari telinga seekor kupu-kupu.

 

Aku melihatmu, dalam seekor kupu-kupu.

Aku melihatmu dalam mata seekor kupu-kupu.

Berdiam di balik rimbun, rumput mengunggun.

Di antara tumbuh kembang kawanan bunga.

Rumput mungil nan bergoyang pelan, tersapu udara.

Arak-arakan awan nan putih gempal.

Seperti menyanyikan kehadiranmu

 

Bibirku ingin meluap tanya. Sudikah kamu?

Mengapa kamu sendirian, cantik?

“Sssssttt… Jangan keras-keras.”

Ah, manisnya bibir itu ketika bersuara.

Dan aku melayang rendah ke lembab itu. Bibirmu.

Menciummu, lembut, lewat bibir seekor kupu-kupu.

 

Bibirmu menggumam, bergerak lambat, lantas berbisik lagi, “Esok, kalau aku datang lagi, aku sudah menjadi sepertimu.”

“Dan ketika itu, ketika aku sudah menjadi sepertimu, aku yang akan terbang. Hinggap di rambutmu. Merendah. Menyinggahi bibirmu.”

Maka hanya satu tanyaku yang tak pernah sempat. Mengapa kita harus saling berbisik di taman? Di taman surga ketika aku dan kamu.

 

Catatan:

Kupu-kupu, manusia, dan taman terinspirasi dari Pagi Bening Seekor Kupu-kupu… pada kumpulan cerpen Potongan Cerita di Kartu Pos karya Agus Noor.

“Diterpa angin nan membelah bercabang tertera dengan sengaja. Diambil dari lirik tembang Angin Pujaan Hujan (Payung Teduh). Pada tembang itu, “Angin berhembus bercabang”.

Kamar Akhir Tahun (1)

Pukul 01.00. 20 Desember 2012 memang bukan akhir tahun. Masih ada 11 hari ke depan sebelum 2013 merengek, meminta manusia sepertiku bergegas menyelesaikan tugas. Bagaimana bisa? Baru saja aku mendengar Paranoid Android yang digubah ulang oleh Power “Weezer” Rangers dan aku merasa bodoh sudah mendengarkannya—dengan tidak sengaja. Ini sudah dini hari dan suara sang vokalis sama sekali tidak bersahabat dengan apa yang dinamakan dini hari. Frank Ocean? John Mayer? Sudahlah. Sebenarnya aku saja yang sedang tidak enak rasa. Coba kamu tahu dan mencium keningku.

Beberapa menit lalu aku me-request tembang Let Down pada sebuah streaming radio. Kebetulan koneksi di kamar kosku menyediakan satu bar sinyal untuk menyelenggarakan sepiku lekas-lekas. Kebetulan lagi, streaming radio ini memilih tema sendu dini hari. Dan ketika aku mengetik ini, Let Down sedang diputar di radio tersebut.

Let down and hanging around, crushed like a bug in the ground.
Let down and hanging around.

Shell smashed, juices flowing, wings twitch, legs are going, don’t get sentimental, it always ends up drivel.
One day, I’m gonna grow wings, a chemical reaction, hysterical and useless.

Ganjil. Ganjil. Ganjil. Seperti itulah mereka di tembang ini—begitupun di banyak tembang mereka yang lain. Entah sejak berapa hari yang lalu aku sedang nyaring-nyaringnya mendendangkan judul ini—dan tidak paham liriknya. Sah-sah saja jika kalian tidak pernah berhenti mengidentikkan aku dengan nada-nada minor. Hahaha. Biar saja. Toh, aku mulai biasa menulis karena hal-hal sedemikian.

***

Apalah. Desember tahun ini tidak terlalu menarik. Kos-kampus-kos-kos-kos-kos. Banyak agenda wajib menguap-terpasrahkan. Kalah oleh Gareth Bale dan Aeron Lennon di permainan virtual sepakbola. Kalah oleh Tom Clancy, Traxex ,Trubadour sampai Tremolo. Meski yang paling parah masih dipegang True Love Waits. Hei, hei, itu hanya sebuah judul—sedikit sensitif—menjelang akhir tahun.

Radiohead dan Kotak Kejujuran Bernama ‘In Rainbows’

Demi warung internet  dengan mbak-mbak gemes di seberang bilik. Demi 1,6GB dengan dua jam estimasi unduh. Mari menulis saja. Sebelum kepalamu terluka dan mati tanpa melihat konser Radiohead di Indonesia.

 

Bukan salah komputer di kos jika pada akhirnya pantatku terhempas di kursi (yang notabene bekas ratusan atau ribuan pantat yang lain) sebuah warung internet. Bukan salah modem yang tidak lebih lincah dari kura-kura di serial televisi Upin-Ipin. Kalau ingin menyalahkan, alamat itu tepat ditujukan kepada anak nakal bernama malware. Habis sudah isi laptopku. Benar. Waktunya merompak perangkat lunak di warnet. Kebetulan terkoneksi dengan dunia luar, lebih baik coba menulis apapun. Oh, maaf. Untuk penggemar tulisan nggerus, aku sedang libur dari hal-hal sedemikian.

Membaca beranda NME dan mencari informasi yang bisa dipahami dalam ke-inggrisan-kuyang jongkok. Khusus untuk Thom Yorke dan kolega, aku bisa dengan begitu mudah mengarahkan pointer dan membiarkan bunyi “klik” mengantarkanku ke dunia metafisik. Sebuah artikel yang entah aku paham atau tidak, “Did Radiohead’s ‘In Rainbows’ Honesty Box Actually Damage The Music Industry?

 

 

Artikel yang mengajak pembaca memahami alasan mengapa album ke-7 Radiohead,-sekaligus album pertama yang dikerjakan dalam label sendiri-”In Rainbows”, diberikan secara gratis melalui situs resmi mereka. “Bayarlah sesuai keinginanmu,” adalah cara Radiohead melawan pembajakan musik yang tengah marak di era tersebut. Penggemar dapat mengunduh secara gratis, maupun membayar sesuai keinginan mereka. Sebuah terobosan yang masih menuai pro-kontra di kalangan musisi hingga saat ini-di antaranya Gene Simmons dan Trent Reznor. Di artikel lain yang aku baca, Dave Mustaine mengatakan bahwa memberikan karya musik secara gratis adalah perbuatan bodoh. Dave juga mengatakan bahwa mereka-orang yang memberikan musiknya secara gratis-tidak akan bertahan lama di industri musik.

Dua peluru yang coba dilesakkan oleh Radiohead adalah: 1. Menunjukkan bahwa respon terbaik melawan pembajakan adalah dengan membuat regulasi baru agar musik bisa sampai ke tangan penggemar. 2. Menunjukkan bahwa “In Rainbows” tidak membunuh gagasan/ide bahwa menikmati karya musik harus berbayar. Ide penyebarluasan album lewat honesty box membiarkan penikmat musik menghargai karya musik sesuai kemampuan mereka. Dan pada kenyataannya, “In Rainbows” tetap mendapatkan keuntungan memuaskan meskipun album ini-menurut Thom Yorke-adalah album dengan pengeluaran terbesar dibanding album-album Radiohead sebelumnya.

 

Tentu aku sedang berusaha mencari kelompok musik pertama yang memberikan albumnya secara gratis. Tapi mungkin dikarena kebahasaanku buruk, aku belum berhasil. Ok, unduhan selesai. Waktunya pulang. (17/10/12)

 

LAST FAITH – DARKSIDE MINI ALBUM

BOOZE - SNOOZE

“Melawan dgn cara yg berbeda. Dimana kami rasa perlawanan kami sisipkan lewat kata, simbol, dan majas.“

Panca pemuda kebanggaan magelang adalah Jarod (Vocal), Dhana (Guitar), Anank (Lead Guitar), Robby (Four Strings), dan Obix (Drum) berhasil mengukir kristalisasi dari ragam imajinasi. Sebuah debut Mini Album bertajuk “Last Faith” yang mulai edar pada 10 Juni 2012. Sebuah jurus jitu yang mereka luncurkan menjawab segala ragam bentuk eksistensi. Dan segepok atensi hangat nan special patut kita layangkan kepada mereka. Juga akan menggelar Launching Mini Album pada 7 Juli esok di Auditorium Universitas Tidar, Magelang.

Dengan lirik berkisah tentang dosa, kemandirian berpikir, dan bercerita tentang lika liku sebuah perbedaan, secara apik dikemas didalam sound sound a la metal core. Keseluruhan menyuguhkan 6 lagu, termasuk 1 versi cover. Dengan list :

1. welcome the darkness (instrumental)
2. kelam
3. abnormal
4. gema sangkakala
5. akar rumput (firebird hc covered)
6. last faith

Tak urung, mereka…

View original post 31 more words

Earthernity Fest 2012, Letto dan Musik Bumi

 

 

Lalu apa ada yang salah ketika musik menjadi senjata andalan melawan berkembangbiaknya istilah kesepian?

 

 

Seperti yang pernah dikatakan seorang kawan, “Langkah awal, mulai saja!”. Memang tidak sepenuhnya bisa diangguki, tapi kali ini aku setuju. Berawal dari jejaring sosial, seorang kawan mengabarkan akan acara yang dimotori UKM Bengkel Kesenian Geografi (Bekage, meski tertulis BEKAGE) UGM. “Konser Musik Bekage feat. Letto”, begitu tertulis. Konser ini adalah puncak dari serangkaian acara Earthernity Fest 2012. Aku tidak tahu banyak kegiatan apa saja itu, dasarnya saja aku tidak banyak peduli. Berhubungan dengan Hari Bumi mungkin. Tapi nama Letto menggodaku. Tentu saja. Aku belum pernah menontonnya dengan tatap mata langsung, kecuali dengan sang vokalis, Sabrang Mowo Damar Panuluh aka Noe di dua Maiyahan terakhir. Itupun bukan bernyanyi sebagai Letto. Dasar, putra Cak Nun.

Minggu, 03-06-12, bertempat di Purna Budaya UGM, pukul 19.00-selesai. Sejak sehari sebelumnya, sudah kuyakinkan diri. Aku harus menontonnya. “Dibilang kimcil, ya kimcil sajalah.” Musik apapun, selama aku mau, mampu dan bisa, maka aku ada di sana. Semoga kalian tidak ingat kalau belum lama ini aku menonton konser Ten2Five. Di awal tahun aku menonton Adhitya Sofyan. Kini Letto.

Apa ada masalah?

Beberapa tembang Letto belum sempat aku lupakan. Dulu, tembang macam Sebenarnya Cinta, Ruang Rindu, Sandaran Hati, Permintaan Hati, dkk kuingat betul liriknya. Entah sial atau tidak, sekarang aku belum lupa. Hahaha.

Yap, tepat hari Minggu menjelang Maghrib, aku harus bersiap. Sendiri sebenarnya, tapi jadi berdua setelah seorang kawan tertarik ikut serta. Ah, kenapa kamu harus ikut? Laki-laki pula. Heh, maklumi saja, aku masih suka lawan jenis. Sekitaran pukul 19.30 aku memaksa kendaraan roda duaku berpacu di jalan. Tiba di Purna Budaya pukul delapan malam kurang setelah sebelumnya menjemput kawan. Tiket Rp 25.000,- bukan masalah—mengingat dompet baru terinjeksi, entah jika diundur hari Kamis. Mati saja rasanya.

Ramai sekali di gedung ini. Laki-laki, perempuan, laki-laki bersama perempuan, perempuan bersama perempuan, laki-laki bersama laki-laki. Argh,aku termasuk yang terakhir. Beberapa penampil sebelum Letto menginvasi panggung adalah, Kapten 58, Bekage Band, juga Koala. Bekage memainkan Melompat Lebih Tinggi milik Sheila on7 dengan intro Iron Maiden (yang apa aku lupa), juga Hymne Bekage. Ada penampil akustik dengan dua vokal yang aku juga luput mengingat namanya. Salah satu yang dibawakan adalah Don’t You Remember’nya Adele. Hiks, aku harus menangis di pundak patung mana lagi ini. Lalu ada kelompok semodel Funky Kopral yang namanya (mungkin) terinspirasi dari Andra and The Backbone. Entah apa, aku belum biasa mengingat banyak.

 

 

 

 

 

 

Lucu, ketika kelompok musik Koala—yang menjadi pembuka bagi Letto—mendapat apreisasi berupa banner dari lantai penonton. Aku pikir apa, ternyata mereka menuliskan ke-ngefans-annya pada “Dita”, sang keyboardis/Synthesizer. Tapi jujur, Dita memang mencuri perhatian. Mashuk leh!!!

Dan yang dinanti-nanti, mbak-mbak dengan tanktop dan hotpant. Eh, bukan. Letto muncul juga pukul sebelas kurang lima belas. Ini dia!!!

Yang nggerus biarlah nggerus…

 

 

 

 

 

 

Diawali dengan tembang Jawa lawas, Sampai Nanti Sampai Mati, Permintaan Hati, Layang-Layang (yang tidak dirilis dalam album), Ruang Rindu, Bird Song, Sebelum Cahaya, Cinta Besabarlah serta encore yang aku tidak tahu. Sing along penonton tidak bisa dibendung lagi. Terutama tembang Ruang Rindu. Ada teriakan “aduh” yang tentu aku mengerti alasannya.  Nggerus? Jelas. Memang itu tujuanku datang. Mencerna lirik-lirik nggerus ala Letto itu tidak mudah. Dan aku suka lirik-lirik seperti ini. Sebenarnya, aku bisa menyukai apapun, siapapun. Hahahaha.

Noe banyak berinteraksi dengan penikmat. Banyak menyuguhkan ke”jawa”annya yang lucu. Satu ucapan Noe yang aku ingat, “Ngga usah kita mikir jauh-jauh buat mendinginkan bumi yang sedang panas, kita dinginkan hati kita dulu.”

Waw!!! Hampir saja lupa. Saat di gedung—jauh sebelum Letto tampil, aku dan kawanku berfoto di booth acara. Ada lomba photobooth, dua orang dengan foto terunik dan di-upload ke twitter dengan hashtag #EF2012 akan mendapat hadiah. Aku dan kawanku ikut. Tentu tanpa ekspektasi (tapi kalian boleh ragu setelah melihat gaya macam apa yang aku dan kawanku pilih ketika berfoto). Tepat sebelum Letto, pemenang lomba dibacakan. Kawanku @pupuseptian dipanggil. Lalu @merakitsampah dipanggil berikutnya. Ya, kami berdua menang. Terima kasih. Aku bisa membawa pulang sepotong girltees dengan ukuran S. Ingat, girltees.

 

 

 

 

 

Ketika hari berubah Minggu, acara selesai. Kegembiraanku belum akan selesai. Semoga penikmat yang lain merasa begitu. Aku merasakannya, gontai mereka melihat Letto usai tidak bisa dibohongi.

Terima kasih UKM Bekage. Earthernity Fest 2012 berakhir. Masih ada tahun depan, dengan harapan pada bumi yang lebih dingin. Sedingin senyum yang aku lihat atas namanya. Ah, siapa?