Padaku, Dia tengah Cemburu

image

Kapankah tiba, hari dimana matahari terlahir begitu miskin?
Pada detik-detik tak teerhitung yang melelahkan, pada deret waktu yang lengang dan kesepian, rintik-rintik hujan berlarian di ingatan yang basah.

Maka kukembangkan payungku agar kamu lekas sadar.
Kamu tidak akan berjalan sendirian di tengah hujan.
Dan cerita-cerita yang sepagi tadi kamu rajut dengan perlahan, bisa aku kenakan.

Marilah kita berjalan, meski aku dan kamu tidak tahu dimana pemberhentian.

Sayang, jika sampai senja nanti hujan tak juga berhenti, maka padaku dia tengah cemburu.
Dan senja, sebagaimana impian-impian kita yang merana.

Catatan: Sampah ini ditulis untuk permainan pengamen-pengamenan. Bongkrek dan Nita sebagai pasangan kekasih, saya sebagai pengamen. Kalau kawan-kawan sudah menonton  Before Sunrise, maka kalian akan tahu kalau ide permainan ini diduplikasi dari sana. Sayang, di permainan ini, saya tidak berhasil mendapat recehan. ūüė¶
Oh iya, karena ada beberapa kesalahan di catatan aslinya, yang saya unggah ini mengalami sedikit perubahan. Termasuk judul yang di catatan aslinya tidak ada. Hiks.

(4/3. Trio Ice Blend)

Advertisements

Meja Tua Perpustakaan

image

Aku melihat bagaimana orang-orang mengambil buku di rak-rak yang beku, membuka sembarang halamannya, lalu menenggelamkan bibir mereka di balik rentetan huruf yang entah apa, sembari mencari kursi kosong. Selama perjalanan dari rak menuju kursi-kursi, mata mereka seperti tak mau diajak turut serta. Bahkan sampai orang-orang ini duduk, mata mereka seolah kamera reporter yang membabi-buta mengabadikan pembunuhan. Buku-buku yang tercekik tangan itu muntah darah. Buku-buku itu, sebelumnya tidak pernah dipegang terbalik.

Tubuh Sayu terbaring di meja tengah perpustakaan, sebuah meja persegi panjang yang kini renta. Sebelum hari ini, jika sedang berada di perpustakaan, Sayu selalu duduk termangu mengamati meja tua, yang kini mengalasi baringnya, dengan pikiran yang penuh dengan angka-angka seperti permainan Kuda Lari. Berapakah usia meja itu, meja yang entah sejak kapan tak seorangpun mau menggunakannya untuk membaca. Meja tua itu telah ada ketika pertama kali Sayu diajak Kakeknya, yang meninggal 10 tahun lalu, untuk meminjam buku cerita rakyat di sini.

Saat itu Sayu baru berusia enam. Setiap malam menjelang tidur, Sayu selalu minta dibacakan cerita oleh Kakeknya. Yang membuat Kakeknya terheran-heran, Sayu hanya mau cerita itu dibacakan. Jika tidak ada buku di tangan Kakeknya, Sayu akan menangis tersedu, tak mau tidur. Jika sudah demikian, Kakeknya mau tak mau mencari sembarang buku yang ia simpan di gudang, lalu sekembalinya ke kamar Sayu, Kakeknya duduk di tepi ranjang, berpura-pura membacakan cerita Timun Mas, seolah cerita itu memang termuat di salah satu halaman Rangkuman Pelajaran Umum Lengkap (RPUL). Belum selesai cerita itu, Sayu pasti sudah tertidur memeluk guling kuning bergambar Tweety. Yang dipeluk dan memeluk, sama-sama dengan tersenyum. Kakeknya mengelus rambut cucunya, bangkit, mematikan lampu, sebelum menutup pintu, Kakeknya akan meninggalkan senyumnya di kamar Sayu. “Klik!”

(4/3. Semoga bersambung.)

Ini Hari Minggu. Ayo Piknik!

image

Pagi ini berencana menonton film-film nominasi penghargaan film mahasiswa kampus saya. Tiba-tiba ada penampakan salah satu adik, di salah satu film yang saya pilih acak. Entah, apa saya harus terus menontonnya atau tidak. Bercanda.
 
Terlepas ada atau tidak ada adik-adik saya yang lain di antara film-film nanti, jangan khawatir. Kalau juri tidak memilih kalian menjadi pemenang, bahkan tidak masuk dalam nominasi sekalipun, saya akan memilih. Memilih tertawa dan mengejek adalah yang pertama. Lalu memilih kalian menjadi pemenang, atas film-film yang tidak pernah kalian sadari, pernah, masih, dan terus kalian perankan.
 
Sekedar merekatkan ingatan perihal apresiasi film mahasiswa di kampus saya. Saya masih merasa, bukan piala yang mereka perlukan sebagai bentuk apresiasi. Sama sekali bukan. Tapi saya tidak akan mengatakan bahwa memberikan apresiasi berupa piala adalah hal bodoh. Hanya, sangat disayangkan. Jika dianalogikan dalam “paragraf sebab-akibat”, sebuah piala hanyalah akibat. Lalu apa sebab? Film itu memiliki jalan cerita dan sinematografi yang apik, efek api dan kilat, jika sempat. Lalu, bagaimana dengan “-” dalam “sebab-akibat”?
 
Saya mempercayai “-” sebagai “Bagaimana kalau menggelar diskusi ringan ala mahasiswa mengenai ‘film’ tersebut?”. Tentu menyenangkan, penggiat film (dalam hal ini untuk apresiasi film mahasiswa kampus saya) diberi ruang untuk bercerita lebih banyak, dengan lebih layak, mengenai film yang dibuatnya dengan hasrat. Dengan peluh dan keluh. Ruang yang riang bernama diskusi atau bedah film masih terlalu asing di kampus yang (katanya) trendi dalam teknologi dan informasi. Selain sebagai bentuk apresiasi konkrit, juga sebagai media belajar yang tak pandang angkatan.
 
Saya tetap menaruh hormat pada kawan-kawan yang berusaha memberi apresiasi semampunya. Sekali lagi, sebuah piala bukanlah hal yang bodoh, meski saya tak tahu juga apa manfaatnya. Tapi sudahlah, tidak baik mengisi Minggu dengan kegelisahan. Lagipula, sudah satu bulan saya tidak meracau di dunia maya. Bukankah lebih baik saya piknik saja? Selamat hari Minggu.
 
Tapi jika ada yang rela meluangkan waktu, menyampaikan kegelisahan saya, tentu saya sangat gembira.
 
(2/3. Hai beranda, saya kembali sekenanya. Jangan marah.)

Keterangan: Diambil dari note FB pagi tadi
 

Hic et Nunc

2014-02-26 12.30.06

2014-02-26 12.32.36

Siang menyengat di Rabu terakhir bulan dua. Sebuah kotak berukuran sedang menerakan namaku di sampul cokelatnya. Bolehkah kubuka dengan wajah riang, untuk kemudian aku ceritakan dengan keriangan yang sama? Sebelum terlalu jauh, aku akan berhenti bercerita jika ada, salah satu saja, di antara kalian yang mengira bahwa kotak ini berisi regulator tabung gas. Seorang kawan kos sudah mengatakannya sekali, jadi aku minta jangan ada lagi. Aku hanya takut, esok hari ada segerombolan ibu rumah tangga datang mengetuk kamar kos, hanya untuk memesan regulator tabung gas. Maaf Bu, saya tidak menjual tiket pre-sale.

 

image

image

image

 

Hic et nunc~

Maafkan, aku tidak meminumnya dengan segera.

Terima kasih untuk Mbak Rindi Danika Sari atas sekaleng kopi yang kini milikku. Takengon bukan? Aku bukan penikmat kopi yang baik, tapi silahkan tebak apakah aku berhasil meminumnya tanpa gula. Dan tentang tumbuhan terakhir yang belum sempat dimusnahkan Mamahmu, yang entah ikut terbang ke Jogja atau tidak, aku baik-baik saja. Jadi jangan memintaku memakainya sebagai lulur, meski, yah, kulit laki-laki lebih perlu memakai lulur dibanding perempuan. Seperti kata tautan yang kamu kirimkan. Mungkin katamu juga. Lalu, mana resepnya?

(2/3. Ditemani Balada Joni dan Susi. Pagi di hari yang semoga tak terlalu kencang.)

Sekawanan Yogya di Penghujung Dua

image

Warn!ng Magazine #1

image

Warn!ng Magazine #2

image

Balada Joni dan Susi

image

Intro: Ketika Joni dua satu dan Susi sembilan belas, hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas. Kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas, dingin dan cemas. Namaku Joni, namamu Susi. Namamu Joni, namaku Susi.

(Terbeli juga di dua puluh delapan bulan dua. Bergizi di akhir pekan. Semoga. Oh iya, namamu Joni? Atau Susi? Atau kita Sekawanan Joni dan Susi.)

Anak Kecil yang Belajar Mengeja

image

Bliss dan Ilusi Imperia

Aku tidak akan mengatakan kalau aku selesai membacanya. Yang ingin aku katakan hanyala aku sudah berusaha keras agar selesai mengejanya. Aku, anak kecil yang semoga terus belajar mengeja, sebelum mampu membaca.
Dan ada baiknya mulai mengeja yang lain, meski sedikit berbeda. Dua yang sedang dan akan di awah ini milik rental buku. Aku lebih senang menyebutnya perpustakaan kecil.
Ah, bukankah menyenangkan jika kelak aku memiliki rak penuh buku? Sebuah perpustakaan kecil untuk mereka yang mengelus punggungmu, pelan dan hangat. Meski kita semua tahu, tidak semua halaman-halamannya akan terhindar dari debu, tapi… Ah sudahlah. Gerimis yang rapat selalu menyelenggarakan kemiskinan. Di gubuk-gubuk pikiran yang usang.

image

Di Etalase dan Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu

(26/2. Siang tadi Pak Pos mampir. Semoga tidak lupa kuceritakan nanti.)