Tetap Jingga, Tetap Menua

image

image

image

Tetap menjadi jingga, meski lelah kau mencoba.

Tetap menjadi jingga, dan kau tetap menua meski lelah kau mencoba.

Perlu waktu tiga jam yang terik untuk akhirnya bisa mengetuk pintu rumah. Empat kali berpindah angkutan, baik kecil maupun besar. Bersisi yang lelap hingga riuh. Berkeringat dan ludah. Tapi, di sinilah sore akan diakhiri.

Ada sosok baru yang menunggu di rumah, yang sebenarnya sudah ada sejak masih berseragam putih-biru. Yang dulu begitu gagah, lantang. Sesekali sesenggukan. Sampai minggu lalu aku mengingatnya. Masih gagah, walaupun dia tidak lagi bisa menyembunyikan batuknya yang kian perih. Sosoknya semakin tua. Seperti menyimpan cerita yang entah siapa mau mendengarnya, selain Bapak.

Tapi ini bukan cerita yang akan dirancang dengan kesedihan yang tiada kepalang. Ini hanya cara menikmati sore yang diduga akan banyak mengundang lamunan, sesekali disemilirkan kegelisahan. Dan kita semua tahu, senja di akhir pekan selalu menarik untuk diperbincangkan, didendangkan. Maka siapkan gelas, juga asap–jika engkau takut tersesat.

Selamat menekuni senja di akhir pekan. Semoga berbahagia.

(8/3. Roemana’s Repertoire, Balada Joni dan Susi, Berjalan Lebih Jauh.)

Advertisements