Di Langit Yang Sama

Guarda questa terra che.

che gira insieme a noi.

A darci un po’ di sole.

 

Mighty Sun…

Mighty Sun…

Mempertanyakan waktu yang menemukan diri pada tidak biasa.

Seolah petang ini segelas teh hangat yang dinanti.

Sunyi yang mendesah di bibir mendinginkannya lekas.

Di luar sana, manusia berjamaah meneteskan air mata sebagaimana percakapan yang deras.

Riuh di batas lampau dan esok hari.

Lalu ketika aku terlelap, kunang-kunang berdiam melaun, membasuh wajah lelah entah darimana datang.

Aku berharap bisa bermimpi.

Bertiga, mempersilahkan langit menaruh hati.

Canto Della Terra.

Jarak itu pada matamu nan sayu.

Pada rambutmu nan tergulung ombak.

Dan puisi-puisi yang tak pernah berhenti membuat kita bertemu-tatap, menggerakkan jari untuk menemukan senyum di halaman selanjutnya.

Puisi yang membuat kita duduk berdua.

Di langit yang sama.

(10 Februari 2013, 01:28, mengapa tiba-tiba Andrea Bocelli mencukupkan diri? Menemaniku mengais dini hari, tanpamu yang entah.)

Advertisements

Kamar Akhir Tahun (1)

Pukul 01.00. 20 Desember 2012 memang bukan akhir tahun. Masih ada 11 hari ke depan sebelum 2013 merengek, meminta manusia sepertiku bergegas menyelesaikan tugas. Bagaimana bisa? Baru saja aku mendengar Paranoid Android yang digubah ulang oleh Power “Weezer” Rangers dan aku merasa bodoh sudah mendengarkannya—dengan tidak sengaja. Ini sudah dini hari dan suara sang vokalis sama sekali tidak bersahabat dengan apa yang dinamakan dini hari. Frank Ocean? John Mayer? Sudahlah. Sebenarnya aku saja yang sedang tidak enak rasa. Coba kamu tahu dan mencium keningku.

Beberapa menit lalu aku me-request tembang Let Down pada sebuah streaming radio. Kebetulan koneksi di kamar kosku menyediakan satu bar sinyal untuk menyelenggarakan sepiku lekas-lekas. Kebetulan lagi, streaming radio ini memilih tema sendu dini hari. Dan ketika aku mengetik ini, Let Down sedang diputar di radio tersebut.

Let down and hanging around, crushed like a bug in the ground.
Let down and hanging around.

Shell smashed, juices flowing, wings twitch, legs are going, don’t get sentimental, it always ends up drivel.
One day, I’m gonna grow wings, a chemical reaction, hysterical and useless.

Ganjil. Ganjil. Ganjil. Seperti itulah mereka di tembang ini—begitupun di banyak tembang mereka yang lain. Entah sejak berapa hari yang lalu aku sedang nyaring-nyaringnya mendendangkan judul ini—dan tidak paham liriknya. Sah-sah saja jika kalian tidak pernah berhenti mengidentikkan aku dengan nada-nada minor. Hahaha. Biar saja. Toh, aku mulai biasa menulis karena hal-hal sedemikian.

***

Apalah. Desember tahun ini tidak terlalu menarik. Kos-kampus-kos-kos-kos-kos. Banyak agenda wajib menguap-terpasrahkan. Kalah oleh Gareth Bale dan Aeron Lennon di permainan virtual sepakbola. Kalah oleh Tom Clancy, Traxex ,Trubadour sampai Tremolo. Meski yang paling parah masih dipegang True Love Waits. Hei, hei, itu hanya sebuah judul—sedikit sensitif—menjelang akhir tahun.