Sebelum Sudah

image

Sekali-kali (atau sering?) menjadi remaja pengejar setlist. Mengawali pekan dengan bungah, kata Farid FSTVLST. Saya bungah. Semoga kita semua.
Dua nomor terakhir tidak dibawakan, dibayar dengan Mati Muda. Menginginkan 120 dan Manifesto Postmodernisme di antara daftar ini. Tapi, bukannya yang diinginkan tak selalu dibutuhkan?
Maka sudahilah…

(9/3.)

Advertisements

Bacalah: Suara yang Tak Pernah Sampai ke Persembunyianmu

 

Dan masih saja, suara itu memanggil namamu pada siang yang lain.

Jalan raya tak kunjung lengang.

Orang-orang saling bertemu dalam sibuknya merajut diam.

Seorang ibu dan anak yang digendongnya tak nampak lagi. Bersembunyi di balik matahari.

 

Terus saja aku berusaha menghalau suaraku sendiri.

Yang menggantung di awan tinggi.

Sekawanan burung merentangkan sayap.

Memecah cermin emas semesta.

Membelah gaun biru cakrawala.

Ada yang luruh, tergenggam di tanganku.

Entah bulu mereka, entah anak-anak awan.

Putih yang murung.

 

Suara itu, terlunta-lunta dalam randai waktu.

Suara yang tak pernah sampai ke persembunyianmu

 

Aku duduk di antara kursi-kursi nan lengang. Seperti menanti keberangkatan.

Ransel di sampingku ini selalu kosong.

Tak pernah sekalipun aku ingin mengisinya dengan beban, betapapun ringan.

Dan di pemberhentian nanti, meski tanpa pemberangkatan, ransel itu tetap akan kosong.

Tanpa sekotakpun beban.

Tanpa sebarispun percakapan.

Ingatkan aku untuk tak goyah.

Untuk tidak sekalipun, membawa dan menyimpan sepotong ingatan.

Untuk tak sekalipun berpamitan.

 

Aku pasti berhenti, meski tak pernah ada keberangkatan.

Dan persembunyianmu sesiang tadi, akan digantikan oleh bulan.

Di petang nanti.

 

 

(29/12. Fstvlst – Tanah Indah untuk Para Terabaikan, Rusak dan Ditinggalkan.)