Membaca Sajak Chairil Anwar untuk Kali Pertama

Pada awal bulan Mei yang biasa saja, sebuah artikel tidak sengaja ditemukan di halaman Tumblr kurangpiknik. Judulnya: Membaca Chairil, Memahami Kereta. Artikel ini dipublikasikan pada 28 April, berisi pembacaan penulis (Zen R.S) mengenai sajak Chairil Anwar yang berjudul Dalam Kereta.

Tidak perlu berbohong, pihak ketiga tersebut bersanding dengan laman-laman yang lebih dulu dibuka: Twitter, Facebook. Tidak ada lagi Friendster. Apa daya, surga testimoni itu sudah lama beralih wujud menjadi wahana bermain, dan Play Store membuat kita lupa bahwa Waptrick juga Getjar bukan sekedar cerita rakyat.

Dalam kereta.
Hujan menebal jendela.

Semarang, Solo…, makin dekat saja.
Menangkup senja.
Menguak purnama.

Ca(ha)ya menyayat mulut dan mata.
Menjengking kereta. Menjengking jiwa.
Sayatan terus ke dada.

 

Jujur saja, terlalu banyak hari dimana sajak tidak menjadi lebih penting dibandingkan belajar-bekerja. Bahkan bisa menjadi tidak lebih penting dibandingkan aktivitas baca-tulis di sosial media. Dan segala tentang Chairil (jika mau) boleh berhenti di pengetahuan: yang menginspirasi Ariel (Peterpan, lalu Noah) dalam penulisan lirik. Tapi—mau tak mau kita harus mengamini—selalu ada cara-cara tak terduga untuk mengingatkan manusia akan suatu hal.

Di atas sebenarnya pembukaan untuk narasi Reuni SMA saya. Namun ternyata jadwal reuni itu belum jelas, sehingga saya yang membuat narasi tersebut untuk tanggal 26 Juli 2014—tanggal lahir Chairil Anwar 26 Juli 1922—harus mengganti narasi reuni dengan yang baru. Narasi yang lama tidak bisa dipakai sebelum tanggal reuni ditentukan. Jadi tulisan tersebut saya pindahkan kemari meski tidak dalam versi lengkap.

Terus terang saja saya sedang menggemari tulisan-tulisan Zen R.S beberapa bulan terakhir—terutama di kurangpiknik dan panditfootball. Narasi di atas bisa juga dikatakan untuk merespon kegembiraan saya setelah membaca artikelnya di Tumblr—meski niat awal tulisan saya bukan untuk publikasi di blog. Tak apalah, sekalian belajar. Pengakuan yang menurut saya harus: “Dalam Kereta” adalah sajak pertama Chairil Anwar yang saya baca. Kalau bukan karena gaya penulisan Zen R.S yang selalu menyenangkan, saya mungkin belum membaca satupun Chairil sampai hari ini. Hore.

 

(7/5. Selama menulis narasi ditemani album Land milik Patty Smith dan The Best of milik Bob Dylan.)

Advertisements

Kesunyian yang Menakjubkan

Hanya ketika hujan akan reda, aku ingin sejenak menepi. Merapikan payungmu.
Tengadahlah kemudian, agar lengkung bulan leluasa kau pandangi.
Berpeganglah sedikit lebih erat.
Kayuh ini tak lama lagi.

Tetes terakhir hujan mengaburkan ragu.
Memandu nyanyi alam dari hampar rumput nan basah.
Di atas sepeda tua ini kita mendengar keheningan yang merdu.
Di ujung kayuh ini kita akan kembali dipertemukan… dengan kesunyian yang menakjubkan.

Hujan(i)lah

Hujanlah, demi apapun yang ingin kau lihat basah.
Punggung bunga, etalase, pipi di hadapan diri sendiri.
Sayang, aku menghabiskan waktu berteduh pada hujan ini. Pada kebersamaan yang ringkas. Menyelipkan gelisah pada ranting-ranting petir. Pada angin nyinyir.

Mengapa hujan datang begitu saja? Sepertimu ketika deras.
Sedang pada gerimis, aku pasti sedang bercermin.

Sayang, aku berteduh bersama tetes air hujan. Sedang surat itu tersimpuh di tanah.
Koyak, bersama huruf-huruf yang basah.

Sayang, aku kalah. Maka hujanilah…

(27/10. Amazing in Bed – Lagu Hujan [Koil].)

Sementara Kita Terus Disengat Ingatan

Sebelum semua yang disebut cerita menemukan akhirnya. Sempatkanlah, sekali waktu melambatkan ayunanmu.
Selepas hari ini kita akan pergi.
Meninggalkan laut biru di televisi.
Juga janji untuk saling genggam.

Sayang cemaskah kamu jika nanti kita urung bertemu senja di ketinggian?
Anak tangga yang kemarin aku ceritakan, yang berjanji membawa kita ke kerumunan awan, entah dimana.
Matahari menjelang gugur, sementara kita terus disengat ingatan.

Bolehlah sejenak menegur dahaga.
Di telaga ini. Dimana cemas, gelisah, dihanyutkan.
Di tenang airnya, kebencian kita karam.
Kamu berlari kecil.
Sampai hari ini aku masih berusaha mengingat, mengapa rambutmu terurai basah.

Tapi aku tidak pernah lupa, ketika itu ada yang diam-diam berdiri di belakangmu.
Menyunggingkan bibirnya.
Jika saja, bayanganmu melihatnya.

Sementara dahagamu itu, sudahkah usai?

(17/10, bersama Marche la Void – Serenity.)

Manusia-manusia yang Menanggalkan Sayapnya

Kepala sedari tadi tertopang tangan.
Menggelayutkan tatap pada apapun yang tertera di jalan.
Di luar sana, matahari seakan tak pernah lengah.
Sepatu kecil berwarna merah muda tidur tengkurap di keranjang bambu milik seorang pemulung.
Mana ada yang tahu, di akhir kayuh, sepatu merah muda itu akan kembali pada pemiliknya atau tidak.
Seorang perempuan melambai.
Angkutan yang aku tumpangi berhenti.

Pikiran sedari tadi tengadah.
Seperti menunggu hujan sedang aku sendiri menggigil kedinginan.
Yang ditunggu itu bisakah datang bergegas?
Aku menunggu di balik jendela.
Sore melemparkan apa saja ke udara.
Hembus, daun, nama-nama yang terlupa, terpelanting jatuh.
Hanya wangi tubuhmu yang berhasil aku selamatkan.

Di dalam angkutan tua ini, hanya ada aku dan manusia-manusia yang menanggalkan sayapnya.
“Kiri, Pak,” kataku.
Kini, aku melihat manusia-manusia yang pura-pura memiliki sayap di punggungnya.
Ingatkan aku menjadi salah satunya.

Pada “Puisi dan Anti Puisi”, Goenawan Mohamad menuliskan, “Banyak hal jadi usang dan ditinggalkan zaman dalam tempo yang kian lekas, seakan-akan masa depan memergoki kita tiap dua hari sekali, dan pelbagai bidang yang kita ketahui semakin beserpih-serpih.”

(18/9. Di rumah, plastik-plastik bertuliskan 2×1 dihadiahkan.)

Mungkin Malu

Ada yang termenung.

Mempertanyakan kemenangan yang (dirasa) urung.

 

Ada yang menunggu.

Wajahnya murung.

Jemarinya seolah mengetik.

Mengapa tak mengalimatkan terlebih dulu?

Mungkin malu.

 

Mungkin, beberapa bertanya, “Mengapa meminta maaf harus (atau baru) di hari seperti ini? Mengapa tidak di hari-hari biasa?” ada juga yang menganggap meminta maaf di hari ini adalah perbuatan… apa sebutannya. Mainstream? Barang tentu, ucapan-ucapan tadi juga milikku. Atau gengsi? Tak masalah. Kecuali aku, kamu, yakin mampu mengalimatkan sama baiknya di hari-hari lain. Hari-hari biasa, kataku, katamu. Tapi maaf, aku belum bisa berujar dengan baik. Apalagi di hari-hari biasa. Maaf.

Katakanlah, aku hanya ingin melakukannya.

 

Mulut acapkali disebut mata pisau. Tapi berusaha merelakan apapun bernama “aku” dalam kata maaf sama sekali tidak buruk untukku. Mungkin mataku penah nyalang kepadamu. Mungkin potongan kuku dari jari kelingkingku pernah menusuk kakimu. Mungkin hidungku tak melulu mencium harum tubuhmu. Mungkin, yang aku genggam belum layak disentuh. Mungkin kakiku pernah menginjak bunga di halamanmu. Mungkin doa kepada Tuhanku tidak lagi utuh. Kemungkinan untuk melakukan hal-hal yang membuat orang lain merasa miskin di hadapan manusia-manusia lain terlalu sering.

 

Maka, pada sebuah kicauan aku tersenyum, “Maaf adalah maaf untuk hal-hal yang tak termaafkan.”

Persilahkan aku untuk menyerah pada hal ini. Persilahkan aku sekedar meminta maaf. Untukmu, untuknya, untuk kalian, untuk siapapun yang berkesempatan bersua, baik lewat tatap muka, suara, maupun aksara.

 

Dan bila kali ini belum sampai, cukup doakan aku agar menemui yang akan datang.

Untuk mengucapkannya lebih baik lagi.

Lagi.

Lebih sering lagi.

 

Selamat!

(7/8)

Kursi Kayu

Sebuah kursi kayu menghadap fajar.

Untukmu, jika datang waktu belajar.

 

Kamu tak ingin usai melingkar peluk dengan gulita.

Dimana gelisah terlipat rapi, disembunyikan rapat.

Dengar, nafasnya terengah.

 

Rebahnya berupa anyaman, celah-celah yang membacakan cerita sebagaimana bunga tidur.

Sikunya menua pada halaman-halaman terbuka yang kamu gemari.

Hari nanti.

 

Dalam lelap tertidur sebentar lagi, ada yang pelan-pelan mengecup keningmu.

Ada yang diam-diam menyunggingkan senyum untuk lelapmu.

Membisikkan aksara entah apa.

Udara nampak menguping.

 

Untukmu, jika datang waktu bersandar.

Angin menggoyang pelan kursi kayu ini.

Mengusir sunyi.

 

(7/8.)