Peradaban dalam Mangkuk

Kadang, bukan adonan yang kita aduk dalam mangkuk…

Yang kita aduk dengan tangan kasar, hasil sesiang meraba letupan-letupan di jalan, adalah dunia yang kita inginkan kecoklatan, lunak, dan matang.

Sedang peradaban yang kita kira kita ada di dalamnya, menertawakan kita yang tak kunjung bangun dari liburan di musim hujan.

Lalu, irisan-irisan jari yang tak rapi di talenan itu bercerita tentang dunia yang berubah.

Apakah kita akan mati ketakutan jika kita tidak ada di dalamnya? Tidak mendapat satu tempat tersisa dari angka-angka yang membuat manusia mengantri tanpa tahu akan mendapat apa.

(26/2. Sedang di warnet demi Polyfauna.)

Advertisements

Setengah Berjudi, Menebus Hutang pada Ingatan

IMG_7777

Sebenarnya tidak ada alasan yang baik untuk kemudian menimpa takutku, berujar di luang waktu. Dari berbagai halaman sore yang aku baca, pernah nampak barang setangkai, Daisy serupa warna. Dia yang disarukan lembayungnya. Dibahasakan semenjana. Dan kebetulan jika kemudian setangkai Daisy ini memberanikan ujarku. Di lain halaman, dia memetik buah. Jerih payah pohon Melankolia di ladang sepi.

Lima macam Pandawa bukanlah nilai tawar yang adil untuk tumbuh-tubuhnya. Jika sempat kuputuskan menulis semenjana di gugus mula, maka aku tidak sedang meminta welas asih pada sang arbiter, apapun yang melatarbelakanginya. Mereka memang semenjana. Beberapa kali sempat kuujarkan di ruang sempitnya. Beberapa kali kusimpan-hilangkan di anak tangga.

Katakanlah kepada mereka, “Semenjana.” Setelahnya, kalimat tanya berayun, “Kamu punya apa selain waktu?”

Kalian pasti tahu rasanya berayun. (Berayun: bergantung dan bergerak ke depan dan ke belakang secara teratur.)

 

Pada dini hari megah di ruang  rapi, aku membaca pada ketidaksengajaan, “Sudah terantuk, baru tengadah.” Salah satu baris di halaman 1438 Kamus Besar Bahasa Indonesia tertulis begitu. Jika aku masih waras ketika membacanya, “merugi” akan menjadi teman minum kopiku sebentar lagi. Setengah berjudi, aku menebus hutang pada ingatan.

Sungguh, untuk kali ini aku ingin bisa menaungi kalian dengan cerita yang akan melayangkan tubuh kalian tinggi-tinggi. Tapi seusainya, akankah masing-masing dari kalian kembali dengan tangisan yang sama ikhlasnya ketika datang waktu membumi? Maka aku urungkan memintal. Menjaga agar pekat kalian tidak terlampau tebal.

Lima pada lima, petang menghembuskan dingin yang kerap.

Lima dalam lima, sembab menghantarkan dekapan hangat.

Urungkah niat kalian berselimut?

 

Setiap kalian adalah pelepah, mengapung di telaga luas.

Menakar jarak berlima.

Salinglah bertaut, melepas langut

Salinglah mengait, menjelma rakit.

Kayuhlah, saat bahagia layar kembangmu.

Kanan, kiri.

 

Angguki lelahnya agar kalian lekas beristirahat.

Basuh dahaga selagi sempat.

Lagi, sampai penat tak nampak diri.

Tengah bertabuh.

Kayuh kanan, kayuh kiri.

 

Berteriaklah lantang ketika telaga usai di timur.

Lemparkan sauh!

Merapatlah, di tepi pagi.

Rebahi rumput liarnya.

 

Lantas mengapa kalau rakit kalian melempar sauh?

 

(29/6/13. Hujan di Mimpi. Dan pada kesempatan lain, seseorang bertanya padaku, “Hal seperti ini, mukjizat atau ujian?” Pada siapapun, bantu aku menjawabnya.)

Untuk Kembali Disusun, Untuk Kembali Dipecahkan

Berilah nasihat padaku, untuk kembali membuka halaman dimana aku berjelajah waktu denganmu…

Hari pertama di bulan Mei bisa berarti apapun. Ketika ribuan, bahkan jutaan orang tengah berjalan dalam upaya mengingatkan orang lain—dan diri sendiri—pentingnya Mayday, sebagian yang tidak menghabiskan waktu mereka tertidur di ruang perkuliahan. Dan pada sore, aku ingin mengatakan bahwa aku tidak berada untuk keduanya.

Hari pertama di bulan Mei bisa berarti apapun. Tembang-tembang yang lazim didengarkan menjelang tidur bisa menjadi terlalu nyaman setelah bangun. Bebunyian datang tidak hanya untuk memperkaya ingatan. Mereka datang, dari arah yang tidak selalu berhasil aku tebak. Maka aku miskin.

Hari pertama di bulan Mei bisa berarti apapun. Aku kembali duduk di tempat yang hampir setiap hari mengingatkan, “Mbok kamu jangan di sini terus, Mas. Pergi main apa kemana.” Dan akhirnya aku mengacuhkan sang pengingat, mengingat aku sudah terlalu sering bermain entah kemana. Maaf, meski demikian bukan berarti aku pernah serius di tempat ini.

Sebentar…

Pada dudukku sore ini listrik mendadak padam. Percakapan dari ruang seberang masih terbagi dua; laki-laki, perempuan. Lalu dengung mikrofon. Lalu tawa pecah. Lalu suara “Sssssttt!!!”. Lalu adzan Maghrib untuk mereka yang biasa meluangkan waktu untuk mendengarnya. Lalu ada suara adzan lainnya, mereka bersahut-sahutan. Lalu aku diingatkan pada kicau seorang yang aku ikuti tentang masjid dan adzan sumbang dari pengeras suara. Sebenarnya apa yang lebih penting, suara yang merdu atau pengeras suara berkualitas? Dua-duanya mungkin. Aku tak begitu paham sebenarnya.

Maka kemudian mari bercerita tentang daya di notebook yang mulai menipis, hampir mirip dengan yang terjadi di kantung kanan celana panjang bagian belakang. Listrik di tempat ini tidak menunjukkan tanda akan menyala. Lalu beberapa orang di seberang berteriak “hidup!!!”. Ah, menyala rupanya. Pantaslah iqomah terdengar dari masjid dekat sini. Suara sang penyeru tidak buruk. Ah, bagaimana jika sang penyeru itu perempuan? Florence Welch misalnya. Dan bagaimana jika diiringi “+ the Machine”?

And i’ve been a fool and i’ve been blind
I can never leave the past behind
I can see no way, i can see no way

 

 

Seperti yang kukatakan, hari pertama di bulan Mei bisa berarti apapun. Bisa berarti seorang manusia mencoba, untuk kesekian kalinya, menyusun pecahan yang masih bisa diselamatkan. Jika di kemudian hari aku memecahkannya (lagi), berharap saja pecahan yang semakin kecil itu masih tampak mata. Untuk kembali disusun. Untuk kembali dipecahkan.

Tidak Ada Tiga Untuk Penengah Keduanya

Kalaulah hari tadi, 14 Februari bisa membagi tubuh menjadi dua. Atau tiga untuk penengah keduanya.

Tapi toh, dunia yang pernah aku tulis tak pernah kuajak nyata. Jadi, katakan saja aku bisa dengan mudah mempersilahkan inginku, membagi tubuhku menjadi dua. Atau tiga.

 

 

 

Tubuh Pertama: Seperti Aku Tidak Pernah Mau Mengingat Umur Kedelapannya

Selamat ulang tahun untuk kelahiranmu. Usia delapan milikmu. Berada di tiga tahun terakhirmu, 50-56. Maafkan, tidak seperti keinginanku juga keinginan kalian. Itu saja.

Tubuh Kedua: Seperti Aku Selalu Mengatakannya, Kepadamu, Entah Apa Kamu Pernah Mendengarnya Atau Belum

Selekasnya riang yang kamu gambarkan di pesan singkat menerjemahkan keriangan yang mega, yang nyata di wajahmu. Riang yang kamu sisipkan di antara pesan singkat, yang entah kapan nanti, membebaskan riangmu dari batas resolusi. Pasti.

Dan sungguh, aku tidak pernah benar dalam memahami kerianganku setelah membaca riangmu. Dalam pesan singkat, dalam wajah dekat. Maka jangan menuduhku tahu apa-apa tentang apapun ketika kamu merasa aku tahu. Sehatlah!

Jika Urung Kau Mekarkan


 

 

Kalau indra perasanya meminta begitu.

Kalau yang berdetak, semestinya 70 kali setiap 60 ini menjadi entah.

Kalau indra perasamu meminta begitu.

Maka perbolehkan aku untuk mengangguk mau.

Mau, kalau indra perasaku mempersilahkan begitu.

 

Selangkah, selangkah lagi, selangkah setelah langkah yang tak selesai.

Banzai, semoga sampai.

Ucapkan padamu setiba matahari.

Selelah lari.

Esok, atau kapan yang tak pernah berencana tumbang warna.

Asal binarmu pada “Sang”, tak redup di ibu kota.

Tempat namamu tertaut di antara pencakar, pada awal mula.

 

Wa….

Tak sampai ufuk namamu ku eja.

Lalu silahkan mereka menggema di hadap layar.

Blablablabla….

Asal lisanmu pada “Sang”, tak putus di ibu kota.

Asal coretmu pada “Yang”, tak kau hapus sepulangnya.

Ceritakan padaku, pencerita.

Halaman, yang jika kamu seorang penulis, memilih epilognya sendiri.

 

Aku pikir, apalah epilog itu jika bibirmu gamang.

Dan aku, kemudian ingin berpikir, apalah epilog itu jika senyummu urung kau mekarkan.

 

 

 

Tertanggal  9 Februari yang tertinggal di tanggal ini. Apa aku akan tahu betapa peluhmu tak sebentar mengering di ibu kota? Semoga aku punya cara yang lebih bijaksana daripada sekadar “amin” dan bualan yang selalu biasa. Papahmu pasti tidak akan lupa, betapa putrinya seorang yang tak pernah merepih asa. Nyatanya kini, kamu di ibu kota (lagi). 🙂

Di Langit Yang Sama

Guarda questa terra che.

che gira insieme a noi.

A darci un po’ di sole.

 

Mighty Sun…

Mighty Sun…

Mempertanyakan waktu yang menemukan diri pada tidak biasa.

Seolah petang ini segelas teh hangat yang dinanti.

Sunyi yang mendesah di bibir mendinginkannya lekas.

Di luar sana, manusia berjamaah meneteskan air mata sebagaimana percakapan yang deras.

Riuh di batas lampau dan esok hari.

Lalu ketika aku terlelap, kunang-kunang berdiam melaun, membasuh wajah lelah entah darimana datang.

Aku berharap bisa bermimpi.

Bertiga, mempersilahkan langit menaruh hati.

Canto Della Terra.

Jarak itu pada matamu nan sayu.

Pada rambutmu nan tergulung ombak.

Dan puisi-puisi yang tak pernah berhenti membuat kita bertemu-tatap, menggerakkan jari untuk menemukan senyum di halaman selanjutnya.

Puisi yang membuat kita duduk berdua.

Di langit yang sama.

(10 Februari 2013, 01:28, mengapa tiba-tiba Andrea Bocelli mencukupkan diri? Menemaniku mengais dini hari, tanpamu yang entah.)

Pihhh!!!

Pihhh!!!

Seharusnya, jika aku benar, itu suara yang nyaring dari sembab bibirmu. Untukku, yang tidak hidup.

Selekasnya, jika aku benar, aku meraih lengkung ludahmu. Dengan mata, hidung, telinga. Jika aku beruntung, seharusnya aku bisa memungutnya kemudian. Membersihkan lelehannya dengan lidah. Seperti cokelat hadiah. Darimu, untukku yang tidak hidup.

Pihhh!!!

Pihhh!!!

Cuihhh!!!

Aku menyeret sepasang kaki jauh-jauh dari kerumunan. Jauh di belakang, pencar cahaya kembang api membumbung, membalap di langit. Aku melewati gang kecil kumuh yang semakin malam semakin panjang. Dipukuli berandalan, bangun, mengusap darah di kepala, berjalan lagi. Mudah, seperti mimpi. bertemu kawanan anjing, mengoyak kaki, tangan. Mereka bosan melihatku diam, anjing-anjing itu berkemas, melenggang pergi. Tidak ada yang bisa diambil dariku selain sekepal nasi di saku kanan jaketku. Mereka mengabaikannya. Sekepal nasi yang lusa berumur satu pekan. Aku bangun, mengelus pelan kedua lengan yang basah. Entah liur, entah darah. Sama saja. Menjahit sebentar celana panjangku yang koyak besar di balik dengkul. Kebetulan jika tiba-tiba di sampingku muncul penjual jarum dan benang nan pendiam. Rasanya dia tahu aku akan membutuhkan dagangannya.

Lima menit dari sekarang, seharusnya aku ditampar sampai pingsan oleh pemabuk gila di seberang jalan dengan sebotol bir. Lalu dia akan menangis malu mengingat istrinya yang sedang menghangatkan sup setiap pemabuk itu pulang. Di meja makannya, setiap dia pulang, selalu ada dua mangkuk kotor, dua kursi keluar dari induk meja, saling berhadapan. Dua gelas dengan sedikit sisa jus mangga. Pemabuk itu benci mangga. Dia benci sup. Lalu aku dipeluknya. Diajak berenang di bantaran kali. Lalu dia akan terseret arus yang hitam. Terbawa sampai rumah. Tentu dia tidak pernah sempat berpamitan. Dia ingin lekas bertemu istrinya, yang sedang menghangatkan sup untuknya.

Setelah perginya, aku akan terduduk lama di atas batu. Memandang kali dan apapun yang mengapung di atasnya. Surat cinta, boneka beruang madu, uang kertas seratusribuan, koran kuning, manekin, foto mesra pejabat dengan penyanyi dangdut. Tubuh pejabat dengan penyanyi dangdut itu juga diam mengapung di kali ini. Perutnya gendut.

Aku akan membuat puisi, atau sajak. Apapun tentang cinta. Seperti biasa, agar aku lekas lupa. Maaf jika tidak terbaca. Aku baru ingat, dua jari kananku dipinjam kawanan anjing tadi. Apa boleh buat.

 

Ini mungkin aku, di hadapan sepasang sepatu tua, yang sedang nyinyir pada hujan segelap ini.

Aku menurutsertakanmu.

Beradu keras dengan gunung berbatu.

Berjingkat pelan, melenggang keluar dari cekikan sang guru.

Berlari dari ganas taring anjing.

Lain waktu, aku mengajakmu membaca buku di wahana parkir, menciumi reruntuhan kembang Kamboja.

Aku tahu, hidungku tidak sebangir milikmu.

 

Aku ingat, kamu mengantarkanku bersua penjaja kopi.

Kamu memakiku yang gemar tertawa sendiri.

 

Di teduh pohon Kamboja itu aku masih bersamamu.

Seorang pemuda gagah dan seorang gadis anggun, di balik pohon Kamboja.

Entah bercumbu mesra, entah berlomba air mata.

Dan entah apakah mereka mengakhirinya dengan rayuan yang selalu romantis di teduh pohon Kamboja.

Aku dan sepatuku ada di sana. Meneguk kopi yang dingin tanpa aba-aba. Membaca buku yang entah apa.

 

Aku penat.

Ingin lekas beristirahat.

Sepatuku juga.

Penat, menanti pemiliknya seperti mereka, seorang pemuda gagah dan seorang gadis anggun, di balik pohon Kamboja.

Mereka, yang entah bercumbu mesra, mereka yang entah berlomba air mata.

Mereka yang entah, apakah mengakhirinya dengan rayuan yang selalu romantis di teduh pohon Kamboja.

 

Sepatuku penat.

Ingin lekas beristirahat.

 

 

Catatan:

Pihhh!!!” terinspirasi dari twit seorang teman beberapa waktu lalu.