Tetap Jingga, Tetap Menua

image

image

image

Tetap menjadi jingga, meski lelah kau mencoba.

Tetap menjadi jingga, dan kau tetap menua meski lelah kau mencoba.

Perlu waktu tiga jam yang terik untuk akhirnya bisa mengetuk pintu rumah. Empat kali berpindah angkutan, baik kecil maupun besar. Bersisi yang lelap hingga riuh. Berkeringat dan ludah. Tapi, di sinilah sore akan diakhiri.

Ada sosok baru yang menunggu di rumah, yang sebenarnya sudah ada sejak masih berseragam putih-biru. Yang dulu begitu gagah, lantang. Sesekali sesenggukan. Sampai minggu lalu aku mengingatnya. Masih gagah, walaupun dia tidak lagi bisa menyembunyikan batuknya yang kian perih. Sosoknya semakin tua. Seperti menyimpan cerita yang entah siapa mau mendengarnya, selain Bapak.

Tapi ini bukan cerita yang akan dirancang dengan kesedihan yang tiada kepalang. Ini hanya cara menikmati sore yang diduga akan banyak mengundang lamunan, sesekali disemilirkan kegelisahan. Dan kita semua tahu, senja di akhir pekan selalu menarik untuk diperbincangkan, didendangkan. Maka siapkan gelas, juga asap–jika engkau takut tersesat.

Selamat menekuni senja di akhir pekan. Semoga berbahagia.

(8/3. Roemana’s Repertoire, Balada Joni dan Susi, Berjalan Lebih Jauh.)

Advertisements

Pesanlah, Segelas Sore yang Dingin

image

Ini sore yang bagus untuk belajar tidak mengeluh. Ini sore yang cerah untuk menepi sejenak dari kosongnya rutinitas. Sebagian langit menyilaukan, tempat dimana matahari berada. Di atas meja, ada yang dia teguk. Ada yang dia hirup.

Kadang, di kondisi seperti ini, Senja merasa hidup. Duduk sendiri. Meja-meja, kursi-kursi, kosong. Tanpa sedikitpun percakapan. Jauh di belakangnya, pengeras suara memutarkan lagu-lagu yang beberapa tidak dikenalnya. Sama sekali tidak buruk untuk mengiringi sore. Paling tidak membuatnya tetap merasa normal.

Sawah kering yang tak seberapa luas berada di sebelah kanan tempat Senja duduk. Padi-padi dan ilalang berjuang tunbuh di sana. Seekor anak kucing bermain, berlarian di pematang. Sesekali melompat, menggigit-gigit batang padi. Sang induk bersiri tak jauh dari tempat anak bermain. Keduanya-induk dan anak-berwarna hitam-putih. Senja mengingat kucingnya di rumah.

Sebatang pohon mangga tertanam gagah di tengah-tengah sawah. Rantingnya diayun-ayunkan angin yang sedang. Beberapa daun gugur. Sisanya memeluk ranting erat. Kalau saja pohon mangga dan rumpun padi itu bisa bicara, kira-kira apa yang tengah mereka bincangkan sekarang? Atau mereka asyik bertengkar?

Segelas es tape milik senja telah cair sepenuhnya. Tiba-tiba Senja merasa dingin. Dia merapatkan jaketnya. Andai sore bisa dipesan.

Dan anak kucing yang tengah bermain, ditemani induknya itu, kapankah mereka pulang?

(29/12. Bjong. Ketika ini selesai dituliskan, kedai ini tengah memutarkan Everybody’s Changing milik Keane.)

Because everybody changing and i don’t know why...