Pihhh!!!

Pihhh!!!

Seharusnya, jika aku benar, itu suara yang nyaring dari sembab bibirmu. Untukku, yang tidak hidup.

Selekasnya, jika aku benar, aku meraih lengkung ludahmu. Dengan mata, hidung, telinga. Jika aku beruntung, seharusnya aku bisa memungutnya kemudian. Membersihkan lelehannya dengan lidah. Seperti cokelat hadiah. Darimu, untukku yang tidak hidup.

Pihhh!!!

Pihhh!!!

Cuihhh!!!

Aku menyeret sepasang kaki jauh-jauh dari kerumunan. Jauh di belakang, pencar cahaya kembang api membumbung, membalap di langit. Aku melewati gang kecil kumuh yang semakin malam semakin panjang. Dipukuli berandalan, bangun, mengusap darah di kepala, berjalan lagi. Mudah, seperti mimpi. bertemu kawanan anjing, mengoyak kaki, tangan. Mereka bosan melihatku diam, anjing-anjing itu berkemas, melenggang pergi. Tidak ada yang bisa diambil dariku selain sekepal nasi di saku kanan jaketku. Mereka mengabaikannya. Sekepal nasi yang lusa berumur satu pekan. Aku bangun, mengelus pelan kedua lengan yang basah. Entah liur, entah darah. Sama saja. Menjahit sebentar celana panjangku yang koyak besar di balik dengkul. Kebetulan jika tiba-tiba di sampingku muncul penjual jarum dan benang nan pendiam. Rasanya dia tahu aku akan membutuhkan dagangannya.

Lima menit dari sekarang, seharusnya aku ditampar sampai pingsan oleh pemabuk gila di seberang jalan dengan sebotol bir. Lalu dia akan menangis malu mengingat istrinya yang sedang menghangatkan sup setiap pemabuk itu pulang. Di meja makannya, setiap dia pulang, selalu ada dua mangkuk kotor, dua kursi keluar dari induk meja, saling berhadapan. Dua gelas dengan sedikit sisa jus mangga. Pemabuk itu benci mangga. Dia benci sup. Lalu aku dipeluknya. Diajak berenang di bantaran kali. Lalu dia akan terseret arus yang hitam. Terbawa sampai rumah. Tentu dia tidak pernah sempat berpamitan. Dia ingin lekas bertemu istrinya, yang sedang menghangatkan sup untuknya.

Setelah perginya, aku akan terduduk lama di atas batu. Memandang kali dan apapun yang mengapung di atasnya. Surat cinta, boneka beruang madu, uang kertas seratusribuan, koran kuning, manekin, foto mesra pejabat dengan penyanyi dangdut. Tubuh pejabat dengan penyanyi dangdut itu juga diam mengapung di kali ini. Perutnya gendut.

Aku akan membuat puisi, atau sajak. Apapun tentang cinta. Seperti biasa, agar aku lekas lupa. Maaf jika tidak terbaca. Aku baru ingat, dua jari kananku dipinjam kawanan anjing tadi. Apa boleh buat.

 

Ini mungkin aku, di hadapan sepasang sepatu tua, yang sedang nyinyir pada hujan segelap ini.

Aku menurutsertakanmu.

Beradu keras dengan gunung berbatu.

Berjingkat pelan, melenggang keluar dari cekikan sang guru.

Berlari dari ganas taring anjing.

Lain waktu, aku mengajakmu membaca buku di wahana parkir, menciumi reruntuhan kembang Kamboja.

Aku tahu, hidungku tidak sebangir milikmu.

 

Aku ingat, kamu mengantarkanku bersua penjaja kopi.

Kamu memakiku yang gemar tertawa sendiri.

 

Di teduh pohon Kamboja itu aku masih bersamamu.

Seorang pemuda gagah dan seorang gadis anggun, di balik pohon Kamboja.

Entah bercumbu mesra, entah berlomba air mata.

Dan entah apakah mereka mengakhirinya dengan rayuan yang selalu romantis di teduh pohon Kamboja.

Aku dan sepatuku ada di sana. Meneguk kopi yang dingin tanpa aba-aba. Membaca buku yang entah apa.

 

Aku penat.

Ingin lekas beristirahat.

Sepatuku juga.

Penat, menanti pemiliknya seperti mereka, seorang pemuda gagah dan seorang gadis anggun, di balik pohon Kamboja.

Mereka, yang entah bercumbu mesra, mereka yang entah berlomba air mata.

Mereka yang entah, apakah mengakhirinya dengan rayuan yang selalu romantis di teduh pohon Kamboja.

 

Sepatuku penat.

Ingin lekas beristirahat.

 

 

Catatan:

Pihhh!!!” terinspirasi dari twit seorang teman beberapa waktu lalu.

Advertisements