Sekawanan Yogya di Penghujung Dua

image

Warn!ng Magazine #1

image

Warn!ng Magazine #2

image

Balada Joni dan Susi

image

Intro: Ketika Joni dua satu dan Susi sembilan belas, hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas. Kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas, dingin dan cemas. Namaku Joni, namamu Susi. Namamu Joni, namaku Susi.

(Terbeli juga di dua puluh delapan bulan dua. Bergizi di akhir pekan. Semoga. Oh iya, namamu Joni? Atau Susi? Atau kita Sekawanan Joni dan Susi.)

Advertisements

Sementara Kita Terus Disengat Ingatan

Sebelum semua yang disebut cerita menemukan akhirnya. Sempatkanlah, sekali waktu melambatkan ayunanmu.
Selepas hari ini kita akan pergi.
Meninggalkan laut biru di televisi.
Juga janji untuk saling genggam.

Sayang cemaskah kamu jika nanti kita urung bertemu senja di ketinggian?
Anak tangga yang kemarin aku ceritakan, yang berjanji membawa kita ke kerumunan awan, entah dimana.
Matahari menjelang gugur, sementara kita terus disengat ingatan.

Bolehlah sejenak menegur dahaga.
Di telaga ini. Dimana cemas, gelisah, dihanyutkan.
Di tenang airnya, kebencian kita karam.
Kamu berlari kecil.
Sampai hari ini aku masih berusaha mengingat, mengapa rambutmu terurai basah.

Tapi aku tidak pernah lupa, ketika itu ada yang diam-diam berdiri di belakangmu.
Menyunggingkan bibirnya.
Jika saja, bayanganmu melihatnya.

Sementara dahagamu itu, sudahkah usai?

(17/10, bersama Marche la Void – Serenity.)

Selat Kesepian

jam-bulan

Sepi. Tangan kiriku menopang berat kepala. Detik-detik jam tangan merambat, menyinggahi cuping telinga. Keadaan ini, seperti aku sedang diberitahu kalau hidup ini diberi waktu.

Bukankah ini sangat menyakitkan. Setiap manusia dengan jam tangan terpasang di pergelangan tangannya nampak seperti tengah menghitung hidupnya sendiri. Mengawasi hidupnya sendiri: apa yang akan datang, apa yang akan pergi.

Lihat, bulan sedang terang meski langit terjangkit mendung. Aku terus mengawasi, apakah sebentar lagi awan-awan akan menghalangi pendarnya. Seperti itulah yang aku pikirkan sekarang. Mungkin bulan jengah juga melihatku sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.

Mungkin alangkah lebih baiknya jika jarum penunjuk detik tidak perlu ada. Suara itu, sangat menyakitkan.

Pesawat melintas di samping bulan. Sorotnya berkedip-kedip. Apakah lampu di badan pesawat itu akan redup suatu hari? Pasti tidak enak rasanya, melihat pesawat melintas terburu-buru, di atas kepala manusia tanpa berkedip-kedip, memberitahu keberadaannya.

Bagaimana rasanya, jika suatu hari manusia mendapati sinar bulan berkedip-kedip? Dan di setiap kedipnya, yang semburat beraneka warna. Seperti lampu disko. Apakah akan menyenangkan?

Dan begitu tersadar dari lamun, bibirku pecah.

Kesadaran, yang entah disadari atau tidak.

Kursi-kursi menjeritkan kekosongan.

(20/7, selat kampus bersama halaman-halaman Norwegian Wood)

 

“Mana bisa disebut revolusi kalau mereka hanya menghambur-hamburkan istilah yang tidak dipahami oleh rakyat biasa?”-Midori

Kemuning

embun

 

Berlompatanlah, hap hap hap…

Sungai

Sawah-sawah berkawanan

Kamu merebah di sauh

Ikan-ikan berendam di hangat arus air

Aku terduduk di atas kerbau, meniup seruling berukir nama

Pemberian sang kekasih

 

Senandungkan pagi, seindah bulir-bulir kemuning di hamparan, katamu

Secantik riak air di himpit batu-batu abu

Seteduh caping di kepala petani-petani

Sebening embun di kaki anak-anak yang berkejaran

 

Aku dan kamu berlompatan, hap hap hap

Sekali lagi

Sungai

Sawah-sawah berkawanan

Aku merebah di sauh

Ikan-ikan berteduh

Di bawah eceng gondok yang terapung

Kamu luwes menari di atas lumpur

Seperti tidak ada seorangpun memperhatikan saat jingga langit-langitnya

 

Sedang seruling ini kamu beri nama Senja.

 

(20/7, The Temper Trap)

Bisa jadi memang tak seorangpun (ingin) memperhatikan… Ku? Mu? Nya?

Sang Suara, Angin-angin Miskin

petang

 

Dalam suka atau duka, kaya atau papa, sampai kematian memisahkan, memisah jiwa raga kita…

 

Sang Suara itu terngiang. Bukan lagi dari kepala yang jarang menyimpan apa-apa. Rasanya malam, tepatnya di jalanan yang aku rutuki ini, suara itu terus terdengar. Sayup pada mulanya, kemudian angin-angin yang miskin beranjak. Menyelinapkannya di pepohonan, memupuknya di lubang-lubang jalan, membiaskannya di lampu-lampu, merekatkannya di papan reklame yang tumbuh liar. Bulan setengah hidup. Peluhnya berupa cahaya-cahaya samar, menetes di gumpalan awan yang muram, menimpaku hingga berbayang.

Sang Suara yang terngiang di benak jalanan. Sang Suara yang menyerang sendiriku di bahunya, bersandar pada tiang-tiang dengan cat terkelupas. Puisi-puisi yang sempat tertulis berlepasan dari tua pendarnya. Sang Suara menemukannya berserak, mengumpulkan puingnya.

Puisi-puisi yang dirapikan Sang Suara itu, puisi-puisi yang tidak pernah bisa utuh lagi maknanya.

Sampai kematian memisahkan, memisah jiwa raga kita. Kita…puisi-puisi yang tidak pernah bisa utuh lagi maknanya, dan aku yang sendiri di bahu jalanan. Yang bersandar di tiang-tiang.

 

Sang Suara itu… bukankah manusia seharusnya bernafas?

Sebentar lagi gelap melenggang. Arak-arakan datang memanggul terang. Sang Suara, angin-angin miskin, bukalah jendela.

Sambutlah. Dalam suka atau duka, kaya atau papa.

 

(17/7, Melancholic Bitch – 7 Hari Menuju Semesta, tidak ada hari sisa untuk kita berdua.)

 

Semoga Ada Koil Hari Nanti.

Tak ada Koil hari tadi. tak ada aksi panggung, yang sebelumnya hanya bisa dinikmati dari halaman Youtube dan artikel kawan-kawan yang sempat menyaksikan lagi-lagi hanya bisa dipupuk lebih lama, sampai waktu yang tak berkabar. Katakanlah, ini satu-satunya kekecewaan di hari ini. melihat kegemilangan Koil menyihirku untuk hadir di salah satu gelaran musik di dekat sini. Mereka telah datang ke area, dan kabar tidak terlalu baik berkunjung datang. Linimasa ramai, entah yang berkepentingan entah tidak tapi tak berhenti berharap agar menjadi penting. Selain itu, kekecewaan yang biasa. Tapi hujan bukan salah satu diantara yang biasa itu.

Bagaimana kabar peringatan Waisak di Candi Borobudur? Ramai? Blits kamera menyalak-nyalak di wajah pemilik hari raya? Manusia-manusia tak berkeperluan hilir-mudik di antara pengkhusuk ritual? Aih. Tidak tahu mengapa, linimasa seolah-olah sedang mengajarkan manusia untuk menjadi bijak secara massal, dengan diri mereka sendiri sebagai penasihatnya. Entah sebagai contoh nyata atau tidak. Sebenarnya tak apa, sungguh. Aku hanya sedikit aneh saja. Lah, sedang aku tak ada bedanya.

Belum ada Koil hari tadi. Bisa berarti belum ada yang bisa aku ceritakan tentang aksi panggung yang paling aku nantikan satu tahun terakhir, kepadamu. Meski belum tentu kamu akan suka mendengarkannya. Belum tentu kamu akan bisa meluangkan waktu untuk bertemu, hanya mendengarkannya. Tak apa. toh, tak ada Koil hari tadi. Jadi tak ada alasan untukku berpikir jauh seperti ini… Berteduh di kala hujan esok hari, berdua, sembari mendendangkan Lagu Hujan yang Otong nyanyikan di kala hujan hari tadi.

Semoga ada Koil hari nanti.

(26 Mei 2013, 03:13. Dengan, lagi-lagi, Koil: Megaloblast dan Black Shines On. Hari ini aku akan mengikuti Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2013. Aku harus pulang ke rumah, lalu datang ke TPS, merusak wajah semua calonnya.)

Di Samping Tawa, Tengah Air Mata.

Dalam perjanjiannya, waktu tidak ingin dicari. Seperti aku adalah pelayar, dan waktu adalah tanah asing yang ditemukan. Tanah dimana harapan ditorehkan, lewat jejak kaki pertama “Sang” yang memegang janji untuk menemukan.

Jika saja seruan tak lagi saling sahut, aku tidak akan memberangkatkan diri bersama alasan. Fajar tak lagi terbit dari hampar pematang yang penuh sapa. Maka sesungguhnya manusia sepertiku tersesat dalam cerita yang tidak sekalipun pernah berkunjung, di beranda bunga tidur yang tidak pernah sekalipun kubangun. Timur menjadi akhir dari perjalanan yang tak sampai dikatakan. Tak mampu dikalimatkan.

IMG_9746a

IMG_9748a

IMG_9750a

Maka ingatkan manusia untuk berterima kasih atas diciptakannya air mata.

Untuk berpeluk erat sebisanya.

Untuk berbahagia.

Di samping tawa, di tengah air mata.

(23 Mei, Norah Jones dengan “Matahari Terbit”-nya.  Kamu tahu?  Akhir-akhir ini matahari berpamitan terlalu awal. Hujan bukan menggantikan, dia hanya tahu caranya bermain peran.)